Page 319 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 FEBRUARI 2020
P. 319

Title          ANCAMAN OMNIBUS LAW BAGI PARA PEKERJA MENURUT KSPI
               Media Name     republika.co.id
               Pub. Date      14 Februari 2020
                              https://nasional.republika.co.id/berita/q5ol0g409/ancaman-omnibus-law- bagi-para-
               Page/URL
                              pekerja-menurut-kspi
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Positive

                      ANCAMAN OMNIBUS LAW BAGI PARA PEKERJA MENURUT KSPI
               Ketua Departemen Komunikasi dan Media Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia
               (KSPI), Kahar S Cahyono membeberkan pasal-pasal kontroversial di Omnibus Law
               Cipta Kerja. Termasuk penghapusan pasal-pasal terkait ketenagakerjaan yang dinilai
               akan berdampak kepada para pekerja atau kaum buruh.

               Menurut Kahar, dalam RUU Cipta Kerja di Omnibus Law bab Ketenagakerjaan
               disebutkan bahwa Pasal 59 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang
               Ketenagakerjaan dihapus. "Dengan dihapusnya Pasal 59, maka penggunaan pekerja
               kontrak bisa diperlakukan untuk semua jenis pekerjaan," kritik Kahar dalam
               keterangan tertulisnya, Jumat (14/2).

               Padahal, lanjut Kahar, dalam Undang-undang Ketenagakerjaan pekerja kontrak
               hanya dapat digunakan untuk pekerjaan tertentu. Yakni, menurut jenis dan sifat
               atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu. Di antaranya,
               pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya.

               "Juga pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu
               lama dan paling lama tiga tahun, pekerjaan yang bersifat musiman atau pekerjaan
               yang berhubungan dengan produk baru, kegiatan baru, atau produk tambahan.yang
               masih dalam percobaan atau penjajakan," ungkapnya

               Selain itu, Kahar menegaskan, pekerja kontrak tidak dapat digunakan untuk jenis
               pekerjaan yang bersifat tetap. Dengan demikian, berdasarkan pasal ini, selain
               pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan
               selesai dalam waktu tertentu harus menggunakan pekerja tetap.

               "Dengan dihapuskannya pasal 59, tidak ada lagi batasan seorang pekerja bisa
               dikontrak. Akibatnya, bisa saja seorang pekerja dikontrak seumur hidup," terang
               Kahar.

               Kahar menambahkan, padahal dalam Pasal 59 UU Ketenagakerjaan juga diatur,
               pekerja kontrak hanya dapat diadakan untuk paling lama dua tahun dan hanya
               boleh diperpanjang satu kali untuk jangka waktu paling lama satu tahun. Setelah
               itu, bisa dilakukan pembaharuan sebanyak satu kali untuk jangka waktu paling lama
               dua tahun.

               "Jika Omnibus Law disahkan, maka perusahaan akan cenderung mempekerjakan
               buruhnya dengan sistem kontrak kerja. Tidak perlu mengangkat menjadi pekerja
               tetap," keluh Kahar.





                                                      Page 318 of 336.
   314   315   316   317   318   319   320   321   322   323   324