Page 1024 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 1024

Ringkasan

              TEMPO.CO, Jakarta -   Menteri Ketenagakerjaan  Ida Fauziyah  menulis surat terbuka kepada
              serikat  pekerja  dan  buruh.  Surat  itu  menyinggung  rencana    mogok  nasional    buruh  yang
              rencananya berlangsung 6-8 Oktober 2020, sebagai protes atas pengesahan Undang-Undang
              atau  UU Cipta Kerja  menjadi undang-undang,  Ida mengatakan rencana aksi harus dipikirkan
              karena pandemi Covid-19.



              MENAKER TULIS SURAT TERBUKA MENJELANG MOGOK NASIONAL BURUH TOLAK
              UU CIPTA KERJA

              Menteri Ketenagakerjaan  Ida Fauziyah  menulis surat terbuka kepada serikat pekerja dan buruh.
              Surat  itu  menyinggung  rencana    mogok  nasional    buruh  yang  rencananya  berlangsung  6-8
              Oktober 2020, sebagai protes atas pengesahan Undang-Undang atau  UU Cipta Kerja  menjadi
              undang-undang,    Ida  mengatakan  rencana  aksi  harus  dipikirkan  karena  pandemi  Covid-19.
              "Terkait rencana mogok nasional, saya meminta agar berpikir lagi dengan tenang karena situasi
              jelas  tidak  memungkinkan  untuk  turun  ke  jalan,  untuk  berkumpul.  Pandemi  Covid-19  masih
              tinggi, masih belum ada vaksinnya," kata Ida melalui surat yang diterbitkan di akun Instagram
              Kemnaker, Senin malam, 5 Oktober 2020.
              Kasubag Pemberitaan Kemnaker Dicky Risyana membenarkan surat tersebut ditulis Ida.

              Menurut Ida, sejak 2020 pihaknya sudah berdialog tentang RUU Cipta Kerja, baik secara formal
              melalui lembaga Tripartit, maupun secara informal. Ia sudah mendengar dan memahami aspirasi
              para buruh. "Sedapat mungkin aspirasi ini kami sertakan menjadi bagian dari RUU ini," ucap dia.
              "Pada saat yang sama kami juga menerima aspirasi dari berbagai kalangan."  Ia meminta buruh
              pertimbangkan rencana mogok dan membaca secara utuh UU Cipta Kerja. Menurut dia, sebagian
              aspirasi buruh sudah diakomodir. "Soal PKWT,  outsourcing  , syarat PHK, itu masih mengacu
              pada undang-undang lama," tutur dia. Soal upah, kata dia, masih mengakomodir adanya UMK.

              Ida menjelaskan bahwa tidak mungkin bisa menampung seratus persen aspirasi kaum buruh.
              Bagi  dia,  keberpihakan  terhadap  para  kaum  pekerja  sangat  terang  dalam  undang-undang
              tersebut. "Karena sudah banyak yang diakomodir, maka mogok menjadi tidak relevan," kata dia.
              Ia meminta supaya tidak turun aksi yang dianggap berisiko dan membahayakan nyawa keluarga.
              Istri, suami, dan anak-anak di rumah wajib dijaga agar tetap sehat.

              Ia juga mengajak para kaum pekerja supaya duduk bersama. Ia antusias menunggu di meja
              dialog untuk menemukan jalan tengah, bukan di jalanan.

              "Ingatlah, hati saya bersama kalian dan bersama mereka yang masih menganggur," ucap dia
              dalam surat tersebut. "Salam sayang saya kepada keluarga di rumah tetaplah sehat. Kita rawat
              kita."    Sebelumnya,  Presiden  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (    KSPI    )  Said  Iqbal
              menyatakan  berbagai  serikat  buruh  akan  tetap  menggelar  aksi  mogok  nasional  sepanjang
              tanggal 6 hingga 8 Oktober 2020. Hal ini menanggapi disahkannya  Omnibus  Law  RUU Cipta
              Kerja  oleh DPR RI pada hari ini, Senin, 5 Oktober 2020.

              "Buruh akan menyuarakan tolak omnibus law RUU Cipta Kerja, antara lain tetap ada UMK tanpa
              syarat dan UMSK jangan hilang, nilai pesangon tidak berkurang, tidak boleh ada PKWT atau
              karyawan kontrak seumur hidup, tidak boleh ada outsourcing seumur hidup," kata Said dalam
              keterangan tertulis, Senin, 5 Oktober 2020. IHSAN RELIUBUN I FRANCISCA CHRISTY ROSANA I
              KODRAT.



                                                          1023
   1019   1020   1021   1022   1023   1024   1025