Page 143 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 143

pada  menurunnya  tingkat  kesejahteraan  masyarakat.  Tingkat  kemiskinan  pada  akhir  2020
              mencapai 10,19 persen atau naik 0,97 persen dibandingkan September 2019 yang mencapai
              9,22 persen.

              Bahkan  sampai  awal  tahun  2021  tingkat  kemiskinan  tidak  mengalami  banyak  perubahan.
              Dibandingkan  bulan  September  2020,  angka  kemiskinan  pada  bulan  Maret  2021  hanya
              berkurang 0,05 persen, yaitu menjadi 10,14 persen.

              Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan bahwa pandemi Covid-19 telah menimbulkan dampak
              negatif yang sangat besar dan luas kepada semua pelaku ekonomi, mulai dari pelaku usaha,
              para pekerja, hingga masyarakat luas.

              Upah berkeadilan

              Berkurangnya pendapatan dan menurunnya daya beli masyarakat di tengah pandemi Covid-19
              menjadi  hal  yang  tidak  bisa  dihindari.  Di  sisi  lain,  harga  barang  dan  jasa  tetap  mengalami
              kenaikan sehingga semakin menambah beban yang harus ditanggung masyarakat.

              Oleh karena itu, tuntutan kenaikan upah minimum di tengah pandemi Covid-19 merupakan hal
              yang  sangat  wajar  dan  dapat  dipahami.  Bahkan,  dalam  kondisi  normal,  penyesuaian  upah
              merupakan rutinitas yang harus dilakukan setiap tahun guna menjaga agar para pekerja tetap
              mendapatkan penghidupan yang layak.

              Namun, tuntutan penyesuaian upah pekerja dengan menaikkan tingkat upah minimum di tengah
              pandemi  Covid-19  menjadi  hal  yang  dilematis  (trade  off).  Hal  ini  disebabkan  selama  masa
              pandemi para pelaku usaha berada dalam kondisi yang tidak ideal.

              Menurunnya  permintaan  dan  berkurangnya  pasokan  bahan  baku  menjadi  beban  yang  harus
              ditanggung para pelaku usaha. Dalam kondisi seperti ini, menjadi hal yang tidak adil jika beban
              penyesuaian upah tersebut harus ditanggung sepenuhnya oleh pelaku usaha.

              Dalam situasi trade off seperti sekarang ini, akan sangat sulit untuk menentukan tingkat upah
              minimum yang dapat memuaskan keinginan semua pihak. Namun, penyesuaian upah minimum
              tersebut harus tetap dilakukan untuk menumbuhkan dan menjaga rasa keadilan dan harapan
              bagi semua pihak.

              Oleh karena itu, harus dicari formulasi penentuan upah minimum yang paling mendekati nilai-
              nilai keadilan walaupun tetap tidak bisa memuaskan semua pihak.
              Terlepas dari keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan bahwa Undang-Undang
              (UU)  Cipta  Kerja  inkonstitusional  dan  harus  segera  dilakukan  perbaikan,  semangat  yang
              mendasari penentuan upah minimum di dalam UU tersebut patut untuk tetap dipertahankan dan
              rasanya masih relevan untuk masa pandemi Covid-19 saat ini.
              Undang-undang  tersebut  mencoba  membuat  dasar  formulasi  yang  berkeadilan  yang
              menjembatani kepentingan pelaku usaha dan para pekerja.

              Setidaknya  terdapat  tiga  dimensi  yang  menjadi  dasar  formulasi  penentuan  upah  minimum
              pekerja, yaitu dimensi jaring pengaman, dimensi insentif (bonus), dan dimensi produktivitas.

              Dimensi jaring pengaman ini diformulasikan dalam bentuk penghitungan tingkat inflasi daerah
              yang mewakili tingkat daya beli para pekerja. Adapun dimensi kedua adalah dimensi insentif
              yang diambil dari variabel pertumbuhan ekonomi.

              Dengan  adanya  dimensi  insentif  ini,  pemerintah  mencoba  memberikan  keadilan  bagi  para
              pekerja.  Keuntungan  usaha  yang  selama  ini  dinikmati  para  pengusaha  seharusnya  bisa

                                                           142
   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147   148