Page 144 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 144

memberikan trickle down effect kepada para pekerja dalam bentuk kenaikan upah. Peningkatan
              keuntungan yang didapat oleh para pengusaha harus dinikmati pula oleh para pekerja sehingga
              para pekerja mendapatkan tingkat upah yang adil.

              Dimensi ketiga dalam formulasi penentuan upah minimum adalah tingkat produktivitas. Variabel
              yang menjadi alat ukur tingkat produktivitas dalam UU Cipta Kerja tersebut ialah jumlah jam
              kerja.

              Jika para pekerja bekerja sesuai dengan jam kerja minimal yang telah ditentukan, perusahaan
              harus membayar sesuai dengan tingkat upah yang telah ditentukan. Sebaliknya, jika para pekerja
              bekerja di bawah jam kerja minimal yang telah ditentukan, maka upah ditentukan sesuai dengan
              proporsi jam kerja para pekerja tersebut.

              Namun, pada masa yang tidak ideal seperti pandemi Covid-19 saat ini, penambahan variabel
              tingkat produktivitas kerja tersebut bisa berpotensi menimbulkan masalah baru.

              Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS), per Agustus 2021 terdapat 35,7 persen angkatan
              kerja yang bekerja di bawah jam kerja normal (35 jam per minggu). Jumlah ini naik 6,9 persen
              dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

              Dengan pemberlakuan sistem pengupahan berdasarkan jam kerja tersebut, diperkirakan akan
              banyak  pekerja  yang  berpotensi  kehilangan  sebagian  pendapatannya.  Padahal,  selama  ini
              kelompok ini masuk ke dalam kelompok ekonomi kelas menengah bawah yang sangat rentan
              terhadap perubahan.

              Peran pemerintah

              Dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini, pemberlakuan formulasi penentuan upah minimum
              yang telah ditetapkan tadi akan menimbulkan pro dan kontra, baik dari kelompok pelaku usaha
              maupun  dari  kelompok  pekerja.  Kedua  kelompok  tersebut  akan  merasa  dirugikan  dengan
              pemberlakuan formulasi tersebut.

              Oleh  karena  itu,  di  tengah  kondisi  yang  tidak  normal  seperti  sekarang  ini,  diperlukan  peran
              pemerintah yang dapat menjembatani kedua kepentingan yang berbeda kutub itu.

              Walaupun keputusan pemerintah nantinya tidak akan mampu memuaskan semua pihak, paling
              tidak pemerintah dapat membuat keputusan yang mendekati rasa keadilan dari tiap-tiap pihak
              tersebut. Pemerintah tidak harus "berdiri di tengah" dalam menentukan upah minimum yang
              berkeadilan.

              Jika pemerintah berada di salah satu sisi kelompok, pemerintah dapat memberikan insentif dan
              kompensasi yang sifatnya aksidental bagi kelompok yang mau berkorban sehingga rasa keadilan
              dari tiap-tiap kelompok dapat dipenuhi.
              Jika kebijakan penentuan upah minimum akan dibuat berpihak kepada para pekerja, pemerintah
              harus  memberikan  insentif  kepada  para  pelaku  usaha  yang  dapat  mengurangi  beban  biaya
              operasional  perusahaan.  Pemerintah  bisa  memberikan  relaksasi  perpajakan  sehingga  beban
              pajak  perusahaan  bisa  berkurang  dan  perusahaan  dapat  mengalokasikan  anggaran  untuk
              kenaikan upah minimum pekerja.

              Pemerintah melalui lembaga keuangan milik negara bisa memberikan insentif suku bunga atau
              restrukturisasi  bunga  utang  sehingga  perusahaan  memiliki  ruang  pembiayaan  yang  bisa
              digunakan untuk kenaikan upah minimum.





                                                           143
   139   140   141   142   143   144   145   146   147   148   149