Page 307 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 DESEMBER 2021
P. 307
probabilitas 119,4% lebih tinggi untuk mengikuti pelatihan apa pun dalam beberapa bulan
terakhir, termasuk pelatihan kartu prakerja dan non-kartu oprakerja.
Penerima Kartu Prakerja juga memiliki probabilitas 4,0 pp (10%) lebih tinggi untuk menggunakan
internet untuk pekerjaan mereka.
Benjamin Olken, profesor ekonomi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) sekaligus
Direktur J-PAL, yang juga menjadi penulis kajian penelitian ini, memaparkan bahwa dari aspek
ketahanan pangan dan keuangan, penerima kartu prakerja memiliki probabilitas 2,9 pp lebih
tinggi untuk melaporkan bahwa mereka aman (secure) dari segi pangan, yang menunjukkan
peningkatan ketahanan pangan sebesar 6%.
Menurutnya, sebanyak 54% penerima program melaporkan tidak pernah makan lebih sedikit dari
biasanya dalam 3 bulan terakhir karena kesulitan keuangan, dibandingkan dengan 51% non-
penerima.
"Para penerima Kartu Prakerja juga memiliki probabilitas 2,6 pp (8%) lebih rendah untuk
mengambil pinjaman dalam 3 bulan terakhir untuk mengatasi kesulitan keuangan dan memiliki
probabilitas 1,6 pp (21%) lebih tinggi untuk membeli aset dalam beberapa bulan terakhir,"
ungkapnya.
Sementara itu, dari sudut pandang layanan keuangan: penerimaan kartu prakerja meningkatkan
kepemilikan e-wallet sebesar 27.8 poin persentase (53%). Sebanyak 80% penerima Kartu
Prakerja memiliki akun e-wallet, dibandingkan dengan 52% non-penerima pada Survei Endline.
Selanjutnya, penerima kartu prakerja memiliki probabilitas 10,5 pp (40%) lebih tinggi untuk
belanja online menggunakan e-wallet dalam sebulan ke belakang, dan Survei Endline juga
menunjukkan peningkatan substansial dalam penggunaan e-wallet untuk kebutuhan lainnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan
menyampaikan program kartu prakerja masih akan dilanjutkan pada tahun 2022.
"Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk Program Kartu Prakerja sebesar Rp11 triliun atau
4,3% dari anggaran perlindungan sosial tahun 2022," tegasnya.
Febrio menekankan, Program Kartu Prakerja merupakan inisiatif strategis Pemerintah dan
penanganan Covid-19 karena tidak hanya menjadi sarana transfer dana dari pemerintah ke
masyarakat, tetapi menawarkan skill development sebagai pondasi meraih kesempatan kerja
yang lebih luas.
"Seringkali para pekerja kesulitan mendapatkan pekerjaan dikarenakan kompetensi yang
diperoleh dari lembaga pendidikan belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Untuk
menjembatani ini pemerintah berupaya memberikan keterampilan bagi Angkatan kerja kita
sehingga labor market akan menjadi lebih sehat dan lebih fleksibel," urainya.
Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari
mengaku lega atas hasil positif dari Studi JPAL ini.
"Penelitian dapat dijadikan bukti bagi skeptisme terhadap kartu prakerja. Apalagi, ini merupakan
studi yang dilakukan secara independen, bukan atas biaya dari Manajemen Prakerja," tegasnya.
Tenaga Ahli Utama Deputi Perekonomian Kantor Staf Presiden Edy Priyono mengingatkan bahwa
dari Kartu Prakerja hadir pada sisi 'supply' ketenagakerjaan, yakni menyediakan tenaga kerja
yang memiliki kompeten. Sedangkan untuk urusan penyerapan tenaga kerja, kaitannya pada
penyediaan lapangan kerja, sebagaimana menjadi tujuan lahirnya Undang-Undang Cipta Kerja.
306

