Page 83 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 OKTOBER 2019
P. 83
Dia menambahkan, mereka setidaknya membutuhkan 480 jam di BLK untuk
mendapatkan pelatihan agar lebih gigih serta punya etos kerja yang baik. Semua
diyakini akan teruji secara karakter dan bisa mendukung sektor industri di Jatim.
"Kami juga kembangkan di pesisir timur untuk sektor usaha lainnya. Kalau itu
berkembang, nanti, industri turunannya mudah untuk didapatkan, termasuk untuk
bahan baku tekstil yang bisa memangkas semua biaya," tambah Emil.
Pernah Jaya
Wakil Sekretaris IKATSI DPW Jatim HM Yousri Nur Raja Agam mengatakan, industri
tekstil di Jatim mengalami kejayaan di era 1980-an. Produksi tekstil dan produk
tekstil (TPT) mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Perusahaan tekstil yang pernah mencapai lebih kurang 200 pabrik kini menyusut
tajam. Penyebabnya, di antaranya akibat makin tuanya mesin tekstil dan kurangnya
peremajaan, sehingga kalah dalam persaingan yang ketat dengan produsen negara
lain akibat pasar bebas global.
Pabrik juga menghadapi tantangan yang cukup berat dengan melimpahnya ekspor
barang TPT dari luar negeri, terutama Tiongkok. "Persaingan dagang antara
Amerika Serikat dengan Tiongkok juga berdampak terhadap produksi, pemasaran,
dan bisnis TPT di Indonesia, termasuk di Jatim," katanya.
Menghadapi tantangan itu, pemerintah melalui beberapa kementerian terkait,
diharapkan bisa memperbaiki struktur industri tekstil dan membentuk katahanannya
melalui kemandirian bahan baku tekstil yang dapat diproduksi di Indonesia.
Selain itu, pengendalian impor TPT diharapkan bisa dilakukan lebih selektif untuk
mempertahankan keberadaan industri dalam negeri. "Kita mengusulkan kepada
pemerintah untuk membentuk Undang-Undang tentang Ketahanan Sandang dan
Kemandirian Sandang. Dalam hal ini, kita siap memberikan masukan," ungkap
Yousri.
Page 82 of 83.

