Page 5 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 JANUARI 2020
P. 5
Title MAHFUD MD ANGGAP WAJAR BURUH TOLAK OMNIBUS LAW: DISKUSIKAN SAJA
Media Name kumparan.com
Pub. Date 10 Januari 2020
https://kumparan.com/kumparannews/mahfud-md-anggap-wajar-buruh-tolak-o mnibus-
Page/URL
law-diskusikan-saja-1sbq1zTBwhL
Media Type Pers Online
Sentiment Positive
MAHFUD MD ANGGAP WAJAR BURUH TOLAK OMNIBUS
LAW: DISKUSIKAN SAJA
Pemerintah saat ini masih merampungkan penyusunan Omnibus Law tentang Cipta
Lapangan Kerja untuk diajukan ke DPR. Hal itu dilakukan guna menyederhanakan
regulasi di Indonesia yang dianggap menghambat perekonomian.
Namun ada penolakan dari kelompok buruh. Di antaranya Gerakan Buruh Untuk
Rakyat (Gebrak) hingga Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI). Mereka
menilai rancangan Omnibus Law akan menghilangkan perlindungan serta kepastian
bagi para pekerja.
Menanggapi penolakan tersebut, Menkopolhukam Mahfud MD menilai wajar karena
setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pasti memunculkan pro dan kontra.
"Ya enggak perlu respons. Apa ada sesuatu yang tidak ada yang menolak. Begitu
dilempar ada yang setuju, ada yang tidak," kata Mahfud di Kompleks Istana
Kepresidenan, Jakarta, Kamis (9/1).
Dia menyebut hal itu bagian dari demokrasi. Baginya, yang terpenting
mendiskusikannya secara menyeluruh agar bisa mencari solusi yang terbaik.
"Itulah perlunya demokrasi kan? Enggak apa-apa. Diskusikan saja asal rasional
boleh menolak. Nanti kalau tidak rasional kalah juga di dalam proses pembahasan,"
jelasnya
Sebelumnya, KSPI menilai Omnibus Law bukan cara terbaik untuk meningkatkan
investasi dan menciptakan lapangan kerja. Sebaliknya, justru menimbulkan
hilangnya upah minimum dan pesangon pekerja.
Presiden KSPI Said Iqbal menegaskan, setidaknya lima hal mendasar dalam
Omnibus Law yang perlu dikritik. Mulai soal Omnibus Law menghilangkan upah
minimum, menghilangkan pesangon, penggunaan outsourcing makin marak,
lapangan pekerjaan bisa diisi Tenaga Kerja Asing (TKA) yang tak terampil dan
jaminan sosial yang terancam hilang.
Page 4 of 82.

