Page 176 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 18 NOVEMBER 2021
P. 176

Ringkasan

              Menteri Tenaga Kerja mengeluarkan Surat Edaran Nomor B-M/383/HI.01.00/XI/2021 tentang
              Penyampaian Data Perekonomian dan Ketenagakerjaan dalam Penetapan Upah Minimum 2022
              yang  ditujukan  untuk  para  Gubernur  agar  digunakan  sebagai  acuan  dan  panduan  dalam
              menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) Tahun 2022 sesuai dengan PP Nomor 36 Tahun 2021
              tentang Pengupahan yang merupakan salah satu aturan turunan dari UU Nomor 11 Tahun 2020
              tentang Cipta Kerja.



              UMK 2022 DIPASTIKAN NAIK

              TANJUNG  REDEB  –  Menteri  Tenaga  Kerja  mengeluarkan  Surat  Edaran  Nomor  B-
              M/383/HI.01.00/XI/2021 tentang Penyampaian Data Perekonomian dan Ketenagakerjaan dalam
              Penetapan Upah Minimum 2022 yang ditujukan untuk para Gubernur agar digunakan sebagai
              acuan  dan  panduan  dalam  menetapkan  Upah  Minimum  Provinsi  (UMP)  Tahun  2022  sesuai
              dengan  PP  Nomor  36  Tahun  2021  tentang  Pengupahan  yang  merupakan  salah  satu  aturan
              turunan dari UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              Dalam edaran tersebut, minimal paling lambat tanggal 21 November telah ada ketetapan UMP.
              Belum ditetapkannya UMP ini, berpengaruh pada penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK).
              Menurut,  Juli  Mahendra,  Kepala  Bidang  (Kabid)  Hubungan  Industrial  Disnakertrans  Berau,
              sekaligus Sekretaris I Dewan Pengupahan, untuk penetapan UMK pihaknya masih menunggu
              keputusan dari Gubernur Kaltim.

              “Berdasarkan  aturan  dan  ketentuan  dari  surat  edaran  kementrian  bahwa  gubernur  wajib
              menetapkan UMP paling lambat 21 November,” ujarnya kepada Berau Post, Selasa (16/11).

              Ia mengatakan, saat ini masih tersisa 5 hari lagi untuk penetapan UMP. Sedangkan untuk UMK
              paling lambat ditetapkan sebelum 30 November mendatang. Dikatakannya, sistem penetapan
              besaran UMK sekarang berbeda dengan sistem yang lama.

              "Kalau yang lama berdasarkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Kemudian melalui rapat dewan
              pengupahan.  Apa  permintaan  dari  pihak  pekerja  dan  pihak  Apindo,  itu  digodok,  dicari  titik
              temunya,” jelasnya.

              Kemudian, untuk saat ini, menentukan besaran UMK acuannya berdasarkan turunan Undang-
              Undang Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 yakni PP Nomor 36 Tahun 2021 pada Pasal 26 ayat
              3,4 dan 5.

              "Ada batas atas dan batas bawah ada rumus tersendiri dalam penetapan UMK tersebut. Tinggal
              memasukan saja, dengan begitu dapat diketahui berapa nominal angka yang akan diberlakukan
              setiap kabupaten dan kota,” imbuhnya.

              Juli  Mahendra  menambahkan,  pihaknya  masih  menunggu  penetapan  UMP,  sehingga  rapat
              dewan pengupahan belum dilakukan. "Bukan hanya Berau, tapi seluruh Kaltim," ujarnya.

              “Kalau gambarannya, setiap pergantian tahun memang naik, mengenai kenekannya itu nanti
              akan dibahas lagi, berapa besarannya,” lanjut Juli Mahendra.

              Menurutnya,  untuk  penentuan  UMK,  setiap  kabupaten/kota  sudah  ditetapkan,  dan  masing-
              masing  beda  angkanya.  Tidak  ditetapkan  berdasarkan  edaran  kementrian.  Penentuan  juga
              berdasarkan,  rata-rata  konsumsi  rumah  tangga  perkapita  dalam  satu  bulan,  serta  rata-rata
              pertumbuhan ekonomi yang kemudian dimasukan dalam rumus.


                                                           175
   171   172   173   174   175   176   177   178   179   180   181