Page 161 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 APRIL 2020
P. 161

telekomunikasi, online learning, cloud services, farmasi, cleaning services, dan home
               fitness.


               Semakin pembatasan sosial diperketat maka semua akan beralih ke online.
               Produsen alat kesehatan, suplemen daya tahan tubuh, itu melonjak permintaannya.
               Kemudian anak-anak dipaksa untuk belajar secara online menjadi kebiasaan baru
               yang sebelumnya sulit dikembangkan, kata Yuswohady.


               Di sisi lain, Sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin mengatakan
               bahwa saat ini ritel dalam kondisi terjepit akibat wabah corona. Karena itu, banyak
               para pengusaha yang mengambil jalan ekstrem sebagai upaya untuk bertahan. Jika
               dilihat dari segi pendapatan, tentunya menurun.

               Jangan harap penjualan meningkat menjelang puasa, berjualan saja sekarang sudah
               tidak bisa karena malnya di tutup kan. Kalau ditanya kerugiannya sampai berapa
               persen, yang jelas di atas 70% sampai 80%, bahkan jika berkepanjangan bisa lebih,
               jelas Solihin.

               Tentunya hal tersebut sangat menimbulkan kekhawatiran, bukan tidak mungkin
               banyak ritel yang terpaksa harus menutup gerainya di beberapa mal tertentu demi
               menyelamatkan yang lain dan karena tidak mampu membayar biaya operasional.

               Sekarang saja kita liat sudah ada ritel pakaian yang terpaksa menutup gerainya di
               beberapa mal dan merumahkan sebagian karyawannya. Dengan adanya pandemi
               korona ini penjualan perusahaan bisnis seperti ritel pakaian bisa turun 80 sampai
               90%, tegas dia.


               Masalah kerugian ini pun tidak hanya dialami di Indonesia saja, Solihin pun melihat
               hal ini juga terjadi di banyak negara. Para pengusaha tertekan, antara tanggung
               jawab kelangsungan usaha dan mempertahankan pekerja.


               Tidak hanya pada bidang ritel, di bidang perhotelan dan restoran pun turut
               merasakan hal yang sama. Mereka terpaksa mengurangi sebagian tenaga kerja
               karena penurunan okupansi perhotelan mencapai 50% dalam tiga bulan pertama
               2020.

               Penurunan okupansi dalam hotel dan restoran di Jakarta bergantung pada kondisi
               bisnis di dunia dan di Jakarta itu sendiri, ungkap anggota Perhimpunan Hotel Dan
               Restoran Indonesia (PHRI) Johnnie Sugiarto.

               Beberapa pengusaha hotel terpaksa harus melakukan efisiensi, mulai dari
               mengurangi biaya operasional hingga memangkas jumlah karyawan.


               “Kita sudah ada yang memang terpaksa mengurangi, dan ada juga sebagian hotel
               sudah memberlakukan program cuti tanpa gaji”, tambah dia.


               Di berbagai daerah tingkat keterhunian hotel hanya tersisa 20%. Padahal, di saat
               low season, okupansi bisa mencapai 30%-40%.





                                                      Page 160 of 355.
   156   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166