Page 244 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JUNI 2020
P. 244

Selanjurnya  kejanggalan  dari  segi  anggaran  yang  memang  tidak  dialokasikan  sesuai
              kepentingan urgen saat ini, seperti penggunaan fitur face recog-nition dengan mengalokasikan
              dana senilai Rp30,8 miliar untuk kepentingan pengenalan peserta dalam proses pendaftaran,
              padahal data NIK atau keanggotaan BP Jamsostek mampu digunakan untuk pengenalan peserta
              yang  mendaftar.  Padahal  anggaran  yang  dialokasikan  untuk  program  Kartu  Prakerja  tak
              tanggung-tanggung, sebesar Rp20 triliun dengan target peserta 5,6 juta orang.

              Setiap peserta dianggarkan dengan komposisi nilai total insentif setelah pelatihan yaitu sebesar
              Rp2.400.000/orang dan insentif survei kebekerjaan

              sebesar Rp150.000/orang, lebih besar dari nilai bantuan pelatihannya itu sendiri yaitu sebesar
              Rp1.000.000/orang. Bahkan menjadi sorotan dalam anggaran yang dialokasikan dalam untuk
              pelatihan secara online ini setiap orang memiliki satu juta dikali dengan jumlah peserta 5,6 juta
              artinya 5,6 triliun hanya dialokasikan untuk pelatihan online yang justru 28% anggaran adalah
              untung dari platform digital yang menjadi mitra pelatihan. Hal ini justru menjadikan tanda tanya
              besar, ada apa dibalik kemitraan yang justru meraup keuntungan. Padahal pelatihan online tak
              penting dibutuhkan saat pandemi, apalagi dengan konten video

              pelatihan yang mampu kita dapatkan dari YouTube dan media sosial. Kemitraan memunculkan
              pertanyaan  mengapa  anggaran  besar  justru  disia-siakan  dengan  jasa/layanan  yang  tak
              dibutuhkan.

              Begitu  pula  dengan  fondasi  dan  perangkat  Kartu  Prakerja  yang  tak  terarah  membuat
              pelaksanaan program kian runyam. Ketidakjelasan program Kartu Prakerja makin rumit dengan
              nama bantuan saat corona. Dampak corona bukan membuat rakyat haus akan konten video
              pelatihan, namun kebutuhan pokok lebih urgen dan terpenting dari video tak bertuan dengan
              tujuan. Tak heran kebingungan program

              kian tergerus dengan new normalyang memaksa rakyat kembali bekerja turun ke jalanan tuk
              mencari sesuap nasi agar kehidupan bisa dilanjutkan.

              Memag program Kartu Prakerja merupakan program dari dasar janji kampanye presiden saat
              ini. Akibatnya program prematur atau dadakan tiba-tiba muncul dengan menggabungkan semi
              bantuan lewat Kartu Prakerja bagi korban PHK akibat corona. Ini jelas bukanlah fondasi utuh
              suatu  program  bantuan  sosial.  Tingginya  anggaran  namun  alokasi  yang  kacau  balau  tentu
              berujung merugikan keuangan negara. Korupsi bisa saja terjadi, manipulasi data sangat mudah

              dilakukan dalam pelaporan keuangan tak heran program ini tak dirasakan rakyat. Seperti hanya
              membuktikan janji manis kampanye ditepati semata.

              Seharusnya pemerintah memahami kebutuhan pokok rakyat bukan mencari muka saat corona.
              Karena rakyat tak butuh kartu apalagi tutorial pelatihan online. Namun rakyat butuh kebutuhan
              pokok  hidup  terpenuhi.  Tutup  segera  program  Kartu  Prakerja,  usut  tuntas  dan  tak  lupa
              selamatkan rakyat dari corona dan kelaparan yang sedang melanda.

              Anita Irmawati Pemerhati Kebijakan Sosial anitairmawati31 @ gmail.com













                                                           243
   239   240   241   242   243   244   245   246   247   248   249