Page 334 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 JUNI 2020
P. 334

Empat aspek yang dimaksud antara lain proses pendaftaran, kemitraan dengan platform digital,
              materi  pelatihan  dan  pelaksanaan  program.  Terkait  proses  pendaftaran,  Alex  menyebut
              sejatinya ada 1,7 juta pekerja ter-dampak (whitelist) pemutusan hubungan kerja (PHK) berdasar
              data  Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemenaker)  dan  Badan  Penyelanggara  Jaminan  Sosial
              (BPIS) Ketenagakerjaan.

              Dari  jumlah  pekerja  terdam-pak  itu  hanya  143  ribu  yang  mendaftar.  Sedangkan  9,4  juta
              pendaftar hingga gelombang ketiga dinilai bukan target yang disasar program Prakerja. Dengan
              demikian,  penggunaan  fitur  face  recoginition  senilai  Rp  30,8  miliar  untuk  kepentingan
              pengenalan peserta dalam proses pendaftaraan itu menjadi tidak efisien. "Penggunaan NIK dan
              keanggotaan BP Jamsostek sudah memadai," paparnya.


              Terkait kemitraan platform digital, kajian KPK mengidentifikasi kerja sama dengan 8 platform
              digital tidak melalui mekanisme pengadaan barang dan jasa (PBJ). Penetapan platform digital
              sebagai mitra resmi pemerintah yang dilakukan Komite Cipta Kerja pada 9 Maret 2020 itu juga
              tidak  sesuai  pasal  35  dan  pasal  47  Peraturan  Menteri  Koordinator  Bidang  Perekonomian
              (Permenko)  Nomor3/2020.  Sebab,  penetapan  dilakukan  sebelum  manajemen  pelaksana
              terbentuk.

              KPK  juga  mengidentifikasi  adanya  konflik  kepentingan  (conflict  of  interest)  pada  5  platform
              digital  dengan  Lembaga  Penyedia  Pelatihan  (LPP).  Itu  mengingat  sebanyak  250  dari  1.895
              pelatihan  adalah  milik  LPP  yang  memiliki  konflik  kepentingan  dengan  platform  digital.
              Sebelumnya, persoalan konflik kepentingan itu menuai banyak kritik dan tanggapan negatif dari
              banyak pihak.

              Menurut Alex, platform digital tidak boleh memiliki konflik kepentingan dengan LPP "Dengan
              demikian 250 pelatihan yang terindikasi (konflik kepentingan) harus dihentikan penyediaannya,"
              tuturnya.  KPK  juga  merekomendasikan  komite  cipta  kerja  agar  meminta  legal  opinion  dari
              Jamdatun  Kejaksaan  Agung  tentang  kerjasama  dengan  8  platform  digital  itu.  "Apakah  (8
              platform digital) itu termasuk dalam cakupan PBJ pemerintah?," imbuh dia.

              KPK  juga  menyoroti  materi  pelatihan  yang  tidak  dilakukan  dengan  kompetensi  memadai.
              Bahkan,  pelatihan  yang  memenuhi  syarat  baik  materi  maupun  penyampaian  secara  daring
              hanya 24 persen dari 1.895 pelatihan. Dan hanya 55 persen dari 457 pelatihan yang dapat
              diberikan secara daring. Bukan hanya itu, dari 327 sampel pelatihan juga ditemukan 89 persen
              (291) tersedia secara gratis di internet.

              Alex menambahkan pelaksanaan program Prakerja secara dalam jaringan (daring) berpotensi
              fiktif, tidak efektif, dan merugikan keuangan negara karena metode pelatihan yang hanya satu
              arah. Pelaksanaan porgram juga tidak memiliki mekanisme kontrol atas penyelesaian pelatihan
              yang sesungguhnya oleh peserta. "Pelatihan harus interaktif sehingga bisa menjamin peserta
              yang mengikuti pelatihan mengikuti keseluruhan paket"

              Atas kajian itu, KPK meminta pemerintah memperbaiki teknis pelaksanaan. Seperti mengubah
              cara  pendaftaran  dengan  cara  menghubungi  pekerja  terdam-pak.  Bukan  membuka  secara
              online  tanpa  memverifikasinya  dengan  data  whitelist  dari  Kemenaker  dan  BPJS
              Ketenagakerjaan. "Tidak perlu penggunaan fitur lain yang mengakibatkan penambahan biaya,"
              ujarnya.
              Untuk diketahui, Prakerja disusun untuk kondisi normal sesuai Perpres Nomor36/2020. Namun,
              dalam situasi pandemi Covid-19, program itu menjadi semi bantuan sosial (bansos). Anggaran
              yang dialokasikan sebesar Rp 20 triliun dengan target peserta 5,6 juta orang. Komposisi nilai
              total insentif pasca pelatihan sebesar Rp 2,4 juta/orang. Dan insentif survei kebekerjaan sebesar



                                                           333
   329   330   331   332   333   334   335   336   337   338   339