Page 25 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JANUARI 2020
P. 25
Title 5 ALASAN SERIKAT PEKERJA TOLAK RUU OMNIBUS LAW
Media Name tempo.co
Pub. Date 15 Januari 2020
https://nasional.tempo.co/read/1295268/5-alasan-serikat-pekerja-tolak- ruu-omnibus-
Page/URL
law
Media Type Pers Online
Sentiment Negative
Serikat pekerja menolak Rancangan Undang-undang Cipta Lapangan Kerja yang
akan dibahas pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka menilai RUU
omnibus law yang diinginkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi ini bakal merugikan
kelas pekerja.
"Jika diblejeti, Omnibus Law RUU Cilaka ini sebenarnya adalah revisi Undang-
undang Ketenagarkerjaan yang sejak 2006 selalu ditolak buruh," kata perwakilan
Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak), Nining Elitos dalam keterangan tertulis,
dikutip Rabu, 15 Januari 2020.
Nining membeberkan, setidaknya ada lima alasan penolakan kelompok buruh
terhadap RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja ini. Pertama, aturan tersebut
dinilai akan semakin memiskinkan kelas buruh Indonesia.
Ketua Umum Konfederasi Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) ini mengatakan,
RUU Cipta Lapangan Kerja menjanjikan kemudahan pemutusan hubungan kerja
(PHK), pengurangan pesangon secara besar-besaran, perluasan jenis pekerjaan
kontrak-outsourcing, perhitungan upah berdasarkan jam kerja, dan lainnya.
Menurut Nining, pemerintah juga akan memanjakan para pengusaha dengan
menghapus pidana perburuhan dan menggantinya dengan sanksi perdata berupa
denda dan sanksi administrasi. Gebrak menilai beleid ini akan berimbas buruk pada
55 juta buruh formal di semua sektor. "Dalam beberapa kesempatan, pemerintah
dengan bangga mengumumkan konsep easy hiring-easy firing atau mudah rekrut,
mudah pecat dalam RUU Cilaka untuk menggenjot investasi," kata Nining.
Ketua Pengurus Harian Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi
(Sindikasi), Ellena Ekarahendy mengatakan, RUU Cipta Lapangan Kerja juga
merugikan para pekerja muda dan calon pekerja. Dalam kondisi pasar tenaga kerja
fleksibel yang terus diperluas, ujar dia, para pekerja muda dan calon pekerja tak
akan memiliki jaminan atas pekerjaan atau job security.
Mereka kemungkinan hanya akan direkrut menjadi pekerja kontrak atau pekerja
Page 24 of 203.

