Page 113 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 NOVEMBER 2021
P. 113

POLEMIK UMP 2022, KEMENAKER PERSILAKAN PIHAK YANG TIDAK SETUJU
              TEMPUH JALUR HUKUM
              Kementerian  Ketenagakerjaan  (Kemenaker)  mempersilakan  sejumlah  pemangku  kepentingan
              yang tidak puas terkait dengan mekanisme penetapan upah minimum provinsi atau UMP 2022
              menempuh jalur hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

              Kepala Biro Humas Kemenaker Chairul Harahap mengatakan, kementeriannya masih menunggu
              data pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan yang disiapkan Badan Pusat Statistik (BPS)
              untuk menghitung kenaikan UMP 2022.

              Langkah  itu  sesuai  dengan  amanat  dari  Peraturan  Pemerintah  (PP)  Nomor  36/2021  tentang
              Pengupahan yang menjadi turunan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              "Bagi para pihak yang tidak puas, mereka bisa menggunakan mekanisme gugatan sesuai dengan
              ketentuan  peraturan  perundang-undangan,"  kata  Chairul  melalui  pesan  WhatsApp,  Selasa
              (2/11/2021).

              Depenas dan LKS Tripnas, tuturnya, telah mengadakan pertemuan pada tanggal 21 hingga 22
              Oktober  2021  di  Jakarta.  Pertemuan  itu  bersepakat  untuk  mendorong  penetapan  UMP  yang
              sesuai dengan ketentuan PP Nomor 36/2021 tentang Pengupahan.

              "Penetapan Upah Minimum tahun 2022 secara mayoritas diprediksi mengalami kenaikan walau
              belum bisa memenuhi ekspektasi semua pihak. Hal tersebut harus diapresiasi sebagai langkah
              maju, mengingat kita masih dalam masa pemulihan dari dampak Covid-19," tuturnya.

              Sebelumnya, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia atau KSPI menolak penetapan UMP 2022
              yang mengacu pada amanat PP Nomor 36/2021 tentang Pengupahan yang menjadi turunan
              Undang Undang Nomor 11/2020 tentang Cipta Kerja.
              Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan, serikatnya tetap berpegang pada rumusan pengupahan
              yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.

              Iqbal menuturkan, UU itu mengamanatkan penghitungan UMP berdasar pada survei kebutuhan
              hidup layak atau KHL di tengah masyarakat.

              "KSPI  minta  menggunakan  KHL  merujuk  pada  UU  Nomor  13/2003,  karena  kami  sedang
              menggugat UU Cipta Kerja, sehingga PP Nomor 36/2021 tentang Pengupahan juga tidak boleh,"
              kata Iqbal melalui sambungan telepon, Selasa (2/11/2021).

              UU Cipta Kerja yang tengah digugat itu, kata Iqbal, tidak dapat dijadikan instrumen penghitung
              kenaikan UMP pada tahun depan. Alasannya, objek hukum yang ada pada UU itu belum memiliki
              kekuatan hukum tetap atau inkrah.

              Lewat survei KHL itu, dia mengatakan, KSPI mendapatkan nilai kenaikan UMP 2022 sebesar 7
              hingga 10 persen.
              Menurut dia, harga sejumlah KHL pekerja, seperti sewa rumah, transportasi, dan barang di pasar
              mengalami kenaikan yang signifikan selama pandemi.










                                                           112
   108   109   110   111   112   113   114   115   116   117   118