Page 32 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 NOVEMBER 2021
P. 32

Judul               PANGGIL MEREKA PEKERJA RUMAH TANGGA, BUKAN PEMBANTU
                Nama Media          Kompas
                Newstrend           Perlindungan PRT
                Halaman/URL         PgE
                Jurnalis            YOHANES MEGA HENDARTO
                Tanggal             2021-11-03 04:57:00
                Ukuran              476x373mmk
                Warna               Warna
                AD Value            Rp 716.380.000

                News Value          Rp 3.581.900.000
                Kategori            Ditjen Binapenta
                Layanan             Korporasi
                Sentimen            Positif

              Ringkasan


              Sublema "pekerja rumah tangga" sebagai kepanjangan dari akronim PRT harus mulai dibiasakan.
              Keberpihakan  pada  nasib  PRT  dimulai  dari  mengubah  penyebutannya.  Penyebutan  pekerja
              rumah  tangga  atau  PRT  memang  masih  asing  di  sebagian  telinga  masyarakat  dibandingkan
              dengan pembantu atau asisten rumah tangga. Alasannya jelas, istilah pembantu atau asisten
              rumah tangga telah lama melekat setelah istilah "babu".



              PANGGIL MEREKA PEKERJA RUMAH TANGGA, BUKAN PEMBANTU

              Sublema "pekerja rumah tangga" sebagai kepanjangan dari akronim PRT harus mulai dibiasakan.
              Keberpihakan pada nasib PRT dimulai dari mengubah penyebutannya.

              Penyebutan  pekerja  rumah  tangga  atau  PRT  memang  masih  asing  di  sebagian  telinga
              masyarakat dibandingkan dengan pembantu atau asisten rumah tangga. Alasannya jelas, istilah
              pembantu atau asisten rumah tangga telah lama melekat setelah istilah "babu".

              Dalam sejarahnya, tidak ada sumber yang jelas tentang asal-mu-asal pekerjaan domestik yang
              eksistensinya masih terjaga hingga kini tersebut. Satu yang patut dicatat, pekerjaan domestik
              tidak dapat dilepaskan dari sejarah perbudakan yang berlangsung dari era Yunani Kuno hingga
              awal abad ke-19. Bahkan, Rachel Zelnick-Abramo-vitz menuliskan dalam jurnalnya bahwa budak
              di Yunani Kuno tidak dianggap layaknya rakyat biasa, derajatnya jauh lebih rendah, dan tak
              dianggap sebagai warga negara.

              Begitulah budaya perbudakan berjalan seiring zaman. Para budak diperjualbelikan dengan cara
              lelang dan bekerja kepada majikannya seumur hidup, entah melakukan pekerjaan domestik,
              mengurus hewan, atau bekerja di ladang. Jangankan upah, mendapatkan majikan yang masih
              memberinya makan saja sudah untung.

              Amerika  Serikat  mengatur  ketat  perbudakan  sejak  1619,  terutama  status  kepemilikan
              majikannya. Para budak itu didatangkan dari Afrika dan dari sinilah terbangun fondasi sentimen
              rasisme antara kulit hitam dan kulit putih, terutama di AS. Isu perbudakan juga merambah ke
              politik karena itulah salah satu isu utama munculnya perang sipil antara AS Bagian Utara (Partai
              Demokrat antiperbudakan) dan AS Bagian Selatan (Partai Republik pro perbudakan).



                                                           31
   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37