Page 162 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JANUARI 2020
P. 162

Title          POIN-POIN RUU OMNIBUS LAW KETENAGAKERJAAN YANG DIKELUHKAN PEKERJA
               Media Name     kumparan.com
               Pub. Date      18 Januari 2020
                              https://kumparan.com/kumparanbisnis/poin-poin-ruu-omnibus-law-ketenaga kerjaan-
               Page/URL
                              yang-dikeluhkan-pekerja-1sfN4Ad9Wyt
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative










               Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak tegas pengesahan Rancangan
               Undang-Undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja yang rencananya akan
               dilakukan pemerintah pada minggu-minggu ini. Ketua Harian KSPI Muhamad Rusdi
               menyampaikan poin-poin RUU Omnibus Law klaster Ketenagakerjaan yang dinilai
               merugikan buruh. Pertama, terkait soal hubungan status kerja yang semakin
               fleksibel.

               Sebenarnya poin mengenai hubungan status kerja ini telah tertuang di Undang-
               Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003. Mereka pun juga menolak. Dalam
               UU ini status hubungan kerja bersifat outsourcing, kontrak dalam jangka waktu
               tertentu.

               "Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 PKKT (Perjanjian Kerja Kontrak Tertentu).
               Kontrak saja menolak karena tidak ada kepastian dalam jangka waktu. Ini sikap
               kami pasti dengan tegas menolak," tegasnya saat ditemui di Kantor LBH Jakarta,
               Sabtu (18/1).

               Poin kedua soal aturan upah minimum. Rusdi bilang, di dalam RUU 'sapu jagat'
               pengupahan pekerja akan berdasarkan jam kerja. Menurutnya, pengupahan
               berdasarkan jam kerja akan merugikan buruh pada saat ada kepentingan khusus
               seperti haji maupun pada saat sakit.

               "Nah ketika upah ini per jam bagaimana terhadap jaminan kesehatan, bagaimana
               menghitung jaminan hari tua, bagaimana ketika kami tidak bekerja bukan atas
               kemauan kami. Contoh sedang berangkat haji, istri melahirkan dan lain sebagainya
               atau mungkin sakit. Ini semakin tidak berpihak kepada pekerja itu sendiri," jelasnya.

               Lalu ketiga soal penghapusan pesangon. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pekerja
               Indonesia (Aspek) Indonesia Sabda Pranawa Djati menyebutkan, dalam UU sapu
               jagat klaster ketenagakerjaan tidak memberikan pesangon pada buruh. Aturan ini
               dinilai lebih buruk dibanding UU Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003.

               "Pesangon akan dihilangkan ini yang harus dicermati bahwa mereka tidak
               menggunakan pesangon tapi menggunakan kompensasi," tambahnya.





                                                      Page 161 of 267.
   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167