Page 158 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JANUARI 2020
P. 158
Title OMNIBUS LAW 'CILAKA' SAMA SEPERTI ROMUSA PADA ZAMAN KOLONIAL
Media Name rmol.id
Pub. Date 18 Januari 2020
https://politik.rmol.id/read/2020/01/18/418024/omnibus-law-cilaka-sama -seperti-
Page/URL
romusa-pada-zaman-kolonial
Media Type Pers Online
Sentiment Negative
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menuntut pemerintah untuk tidak
mengesahkan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja.
Sekjen KSPI Muhammad Rusdi menyampaikan, dirinya menyebut undang-undang
tersebut sebagai 'Cilaka' pelesetan Cipta Lapangan Kerja, lantaran dianggap akan
mencelakai para buruh ke depan.
Rusdi menambahkan undang-undang tersebut dianggap bermaksud untuk
menjadikan sejumlah perusahaan besar hanya mengandalkan outsourching
ketimbang menjadikan pegawainya sebagai pegawai tetap.
"Omnibus Law Cipta Lapangan ini membuat hubungan kerja atau pasar kerja
menjadi semakin fleksibel atau liberal, saat ini yang status pegawai tetap secara
perlahan-lahan akan dikurangi terus-menerus dan digantikan dengan hubungan
kerja yang bersifat kontrak kemudian outsourcing dan pemagangan," ucap Rusdi di
Gedung LBH Pusat, Jakarta Pusat, Sabtu (18/1).
Pihaknya mengatakan bahwa oursourching atau pemagangan sangat merugikan
kaum buruh, hal itu dikarenakan buruh tidak akan mendapatkan pesangon dan juga
jaminan sosial yang layak.
"Maka dengan Omnibus Law ini pemagangan akan merajalela," tambahnya.
Rusdi menambahkan pemagangan yang dimaksud bukan kepada yang masih duduk
di bangku sekolah maupun kuliah, melainkan seluruh sarjana akan diberlakukan
pemagangan terlebih dahulu di sejumlah perushaan.
"Karena dianggap tidak punya kompetensi mereka magang dulu nanti bisa tiga
bulan, enam bulan, setahun dua tahun, bisa diperpanjang terus-menerus seperti
outsourcing. Kalau ini terjadi bukan hanya nasib buruh yang hilang kesejahteraan,
tapi juga nasib anak bangsa ini makin tidak jelas, bekerja tapi miskin," tuturnya.
"Ini tidak ada bedanya dengan pada zaman kolonialism, seperti praktik kerja paksa
atau romusa atau tanam paksa," tandas Rusdi mengunci komentarnya.
Page 157 of 267.

