Page 71 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 12 MEI 2020
P. 71
Jika dipandang hanya dari satu sisi, lanjut Ahmad, kedatangan 500 TKA itu memang
seperti menambah jumlah TKA China bagi PT VDNI. Tapi, pada dasarnya, hal
tersebut justru akan menambah lagi rekrutmen tenaga kerja lokal.
Sebab, setelah smelter itu rampung, pihak perusahaan, lanjut Ahmad, memastikan
akan merekrut tenaga kerja lokal dalam jumlah besar. Setelah seluruh konstruksi
mesin pemurnian nikel selesai dibangun, para TKA itu nantinya akan di pulang ke
negara asalnya, China. Keberadaan TKA itu di perusahaan paling lama 6 bulan.
"Karena kalau smelter itu jadi, kami pasti akan merekrut tenaga kerja lokal untuk
mengoperasikan smelter itu. Sedangkan untuk TKA China itu, kan, dibatasi masa
kerjanya, tidak selamanya mereka akan bekerja di sini," katanya.
Dia kembali memastikan bahwa jika proyek pembangunan Smelter tersebut telah
selesai, pihaknya akan merekrut sebanyak banyaknya tenaga kerja lokal.
Meski mengaku membutuhkan para TKA itu, VDNI tetap mengikuti kebijakan yang
telah dikeluarkan oleh pemerintah, yaitu menunda kedatangan 500 TKA.
Luhut Angkat Bicara
Rencana kedatangan TKA China ini didukung Menko Luhut. Ia mengatakan,
kehadiran 500 pekerja China itu dibutuhkan karena Indonesia belum siap
mengerjakan proyek ini sendirian.
VDNI akan mengolah nikel menjadi lithium untuk bahan baku baterai mobil listrik.
Teknologi yang diterapkan dalam pabrik milik VDNI berasal China, Indonesia belum
menguasainya.
"Memang industri ini harus memerlukan orang-orang yang paham membangunnya.
Enggak serta-merta kita siap. Kita enggak siap, kita harus jujur akui itu. Jadi, kalau
nanti Juni atau Juli sudah siap, kita harus kerjakan. Nanti tenaga asing kerjakan,
biar lah dia kerjakan," kata Luhut.
Meski begitu, Luhut mengaku tak ingin TKA China memegang kendali atas proyek
ini. Karena itu, nantinya para pekerja Indonesia akan dilatih di sana.
Luhut menjanjikan 92 persen yang akan bekerja di proyek besar ini adalah orang
Indonesia. Politeknik yang sekarang dibangun di Sulawesi Tenggara pun disiapkan
agar lulusannya bisa terserap.
"Secara bersamaan tenaga kerja Indonesia masuk, di-training, karena kan ada
politeknik. Ya memang teknologinya dari dia (China), ya kita enggak bisa kita yang
kerjakan semua. Tetap ada dia (China)," terangnya.
Page 70 of 243.

