Page 86 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 MEI 2020
P. 86
Hal ini mengingat Kementerian Perhubungan (Cq. Ditjen Hubla) juga mengeluarkan
SIUPPAK (Surat Ijin Usaha Perekrutan dan Penempatan Awak Kapal) bagi agen
penempatan yang biasa disebut maning agent.
"Untuk itu kami terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Kami akan
memastikan aspek ketenagakerjaan dan hak-hak pekerja terpenuhi dan kasus ini
segera dapat diatasi dengan baik," kata Aris.
Kronologi
Pemerintah Indonesia memberi perhatian serius atas masalah yang dihadapi anak
buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) di kapal berbendera China, Long
Xin 605 dan Tian Yu 8 yang berlabuh di Busan, Korea Selatan (Korsel)
Menteri luar negeri Retno Marsudi menceritakan kronologis terkait para ABK WNI
tersebut dalam konferensi pers, Kamis (7/5/2020).
KBRI di Seoul telah menerima informasi mengenai adanya kapal Long Xin 605 dan
Tian Yu 8 berbendera China yang akan berlabuh di Busan membawa AbK WNI dan
informasi mengenai adanya WNI yang meninggal dunia di kapal tersebut sejak 14
April 2020.
Dari dua kapal tersebut, terdapat 46 awak kapal Indonesia yang berasal dari 4
kapal.
Yaitu 15 orang pekerja dari kapal Long Xin 629, 8 orang pekerja berasal di kapal
Long Xin 605, 3 orang pekerja dari kapal Tian Yu 8, dan 20 orang bekerja di kapal
Long Xin 606.
"Jadi itu adalah informasi yang diterima oleh KBRI Seoul pada kisaran tanggal 14
sampai 16 April 2020," ujar Menlu
Kedua kapal tersebut memang sempat tertahan karena terdapat 35 ABK WNI yang
tidak terdaftar di dua kapal tersebut.
Yaitu 15 WNI yang terdaftar di Kapal Long Xin 629 dan 20 AbK yang terdaftar di
kapal Long Xin 606.
"Jadi yang 35 itu terdaftar di Long Xin 629 dan Long Xin 606, tetapi keduanya itu
diangkut oleh dua kapal lainnya yaitu Long Xin 605 dan Tian Yu 8," ujar Retno
Marsudi menjelaskan.
"Jadi artinya 35 AbK WNI tersebut tidak terdaftar di Kapal longsing 605 dan Tian yu
8, mereka dianggap tidak sebagai ABK oleh otoritas pelabuhan di Busan namun
dihitung sebagai penumpang," lanjutnya.
Page 85 of 276.

