Page 221 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 29 OKTOBER 2021
P. 221

Ketua  Forum  Peduli  Buruh  (FPB)  sekaligus  Ketua  Serikat  Pekerja  Republik  Indonesia  (SPRI)
              Sukoharjo, Sukarno, Kamis (28/10/2021) mengatakan, buruh di Kabupaten Sukoharjo sejak awal
              sudah menolak Undang-Undang Cipta Kerja atau omnibus law karena tidak memihak buruh.
              Penolakan termasuk berkaitan dengan penggunakan Undang-Undang Cipta Kerja sebagai dasar
              penentuan  UMK  tahun  2022  mendatang.  Buruh  lebih  meminta  pada  pemerintah  untuk
              menggunakan dasar survei KHL sebagai penentu besaran upah tahun depan.

              Tuntutan  buruh  tersebut  sudah  disampaikan  secara  resmi  pada  pemerintah  sebagai  bentuk
              perbaikan nasib. Kondisi ditengah pandemi virus Corona membuat nasib buruh menjadi tidak
              menentu.  Sukarno  mengatakan,  masih  banyak  buruh  sekarang  belum  mendapat  pekerjaan
              setelah  terkena  pemutusan  hubungan  kerja  (PHK)  atau  ketatnya  persaingan  mendapat
              pekerjaan baru.

              FPB Sukoharjo juga melihat pandemi virus Corona membuat nasib buruh menjadi tidak sejahtera.
              Sebab  dengan  serba  terbatas,  buruh  harus  mengeluarkan  banyak  biaya  pengeluaran  untuk
              menghidupi keluarga.

              Sukarno menjelaskan, UMK Sukoharjo Tahun 2021 sebesar Rp 1.986.450 atau naik 2,5 persen
              dari tahun 2020. Besaran UMK tersebut menggunakan dasar Undang-Undang Cipta Kerja dan
              ditolak buruh. Angka tersebut jauh dari harapan buruh. Sebab usulan SPRI Sukoharjo pada saat
              itu naik sebesar 4 persen sesuai hasil survei KHL sebesar Rp 2.538.237.

              “Buruh  tetap  menolak  Undang-Undang  Cipta  Kerja  sebagai  penentu  UMK.  Seperti  pada
              penentuan UMK tahun 2021 lalu dan nanti tahun 2022 karena tidak memihak buruh. Kondisi
              sekarang  masih  pandemi  virus  Corona  dan  buruh  meminta  pada  pemerintah  untuk  lebih
              memperhatikan nasib buruh. Pakai saja KHL,” ujarnya.

              Beberapa komponen yang disurvei seperti terhadap harga kebutuhan pokok pangan, tempat
              tinggal  dan  komponen  lain  sesuai  aturan  berlaku.  Sukarno  menambahkan,  FPB  Sukoharjo
              memahami kondisi pandemi virus Corona yang membuat sektor usaha terpengaruh. Namun hal
              itu tidak lantas mengorbankan nasib buruh dengan dibayar upah murah.
              Survei KHL dilakukan berdasarkan aturan baru dalam Permenaker Nomor 18 Tahun 2020 tentang
              Perubahan atas Permenaker Nomor 21 Tahun 2016 tentang KHL. Dasar inilah yang ditegaskan
              Sukarno dipakai buruh sebagai penentu UMK. “Harapannya UMK tahun 2022 tetap naik. Nasib
              buruh harus ada perbaikan kesejahteraan,” lanjutnya.
              FPB Sukoharjo berharap sisa waktu dua bulan kedepan dimaksimalkan untuk membahas dan
              menentukan besaran UMK. “Buruh juga berharap tahun 2022 mendatang tidak ada PHK massal,”
              lanjutnya. (Mam)






















                                                           220
   216   217   218   219   220   221   222   223   224   225   226