Page 342 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 NOVEMBER 2021
P. 342

Sekretaris  KSPI  Provinsi  Jawa  Timur  Jazuli  menegaskan,  buruh  menolak  Omnibus  Law  (UU
              Nomor  11/2020  tentang  Cipta  Kerja).  Buruh  mendesak  Mahkamah  Konstitusi  mengabulkan
              permohonan judicial review yang diajukan.

              Menurut  Jazuli,  buruh  juga  menolak  pembuatan  perjanjian  kerja  bersama  (PKB)  di  dalam
              perusahaan  tanpa  menggunakan  Omnibus  Law  (UU  Nomor  11/2020  tentang  Cipta  Kerja).
              ”Kemudian  tetap  berlakukan  upah  minimum  sektoral  kabupaten/kota  (UMSK)  2022  di  Jawa
              Timur,” tegas Jazuli.

              Selain tiga isu nasional tersebut, khusus di Jawa Timur KSPI juga mendesak Gubernur Khofifah
              Indar Parawansa untuk menetapkan upah minimum sektoral kabupaten (UMSK) Mojokerto 2021.
              Mereka juga menuntut Khofifah untuk mewujudkan upah layak dan berkeadilan di Jawa Timur.

              ”Menuntut  untuk  menetapkan  Upah  Minimum  Provinsi  (UMP)  Jawa  Timur  2022  Rp  3,4  juta.
              Angka itu didapat dari data yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk dijadikan parameter
              pengali kenaikan UMP Jawa Timur 2022,” terang Jazuli.
              Buruh juga meminta gubernur harus mengevaluasi kinerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
              Provinsi Jawa Timur khususnya bidang pengawas ketenagakerjaan. Selain isu ketenagakerjaan,
              buruh  juga  turut  bersolidasitas  terhadap  kesejahteraan  nelayan  dengan  turut  menyuarakan
              penolakan terhadap PP Nomor 85 Tahun 2021 tentang jenis dan tarif atas jenis penerimaan
              negara bukan pajak (PNBP) yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.

              Pasalnya, lanjut Jazuli, PP 85/2021 tersebut sangat merugikan masyarakat, pelaku dan pekerja
              bidang kelautan dan industri perikanan. Nelayan tradisional mengklaim kesulitan dengan besaran
              tarif PNBP pada jenis kapal ikan dengan kapasitas antara 5 Gross Ton (GT) hingga 1.000 GT.

              ”Belum lagi perpanjangan perizinan dan dokumen kapal di sejumlah instansi masih terkesan
              lamban,” imbuh Jazuli.

              Karena sebelumnya, kapal jenis 5 GT hingga 1.000 GT, biasa dikenakan PNBP bervariasi minimal
              sekitar Rp 20 juta sampai Rp 30 juta per tahun. Untuk itu, Jazuli menyebut kaum buruh juga
              menyuarakan penolakan PP No 85 Tahun 2021 tersebut.

              ”Karena memberatkan dan merugikan masyarakat kecil hingga nelayan teradisional,” ujar Jazuli.































                                                           341
   337   338   339   340   341   342   343   344   345   346   347