Page 450 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 NOVEMBER 2021
P. 450

Ringkasan

              Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengkritik keras rencana kenaikan rata-rata upah
              minimum provinsi (UMP) 2022 yang cuma sebesar 1,09 persen.

              "Soeharto saja tidak melakukan ini di Orde Baru, jahat sekali, jahat sekali para menteri. Para
              menteri Soeharto saja di Orde Baru yang kita anggap orang yang sangat anti demokrasi dan
              menyengsarakan  rakyat  maka  terjadi  reformasi,  tidak  melakukan  yang  seperti  sekarang  ini
              dilakukan  para  menteri  yang  merumuskan  PP  36,"  ungkap  Presiden  KSPI  Said  Iqbal  saat
              konferensi pers virtual, Selasa (16/11).



              BURUH SOAL UMP NAIK TIPIS: SOEHARTO SAJA TIDAK LAKUKAN INI DI ORBA

              Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengkritik keras rencana kenaikan rata-rata upah
              minimum provinsi (UMP) 2022 yang cuma sebesar 1,09 persen.

              "Soeharto saja tidak melakukan ini di Orde Baru, jahat sekali, jahat sekali para menteri. Para
              menteri Soeharto saja di Orde Baru yang kita anggap orang yang sangat anti demokrasi dan
              menyengsarakan  rakyat  maka  terjadi  reformasi,  tidak  melakukan  yang  seperti  sekarang  ini
              dilakukan  para  menteri  yang  merumuskan  PP  36,"  ungkap  Presiden  KSPI  Said  Iqbal  saat
              konferensi pers virtual, Selasa (16/11).

              Sebagai catatan, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan menjadi
              acuan untuk menentukan besaran kenaikan UMP 2022.

              Ia mengatakan sebanyak 60 federasi serikat buruh menolak dengan tegas dan keras perhitungan
              UMP 2022 menggunakan formula upah yang ada di PP 36/2021. Para buruh mau perhitungan
              upah  masih  menggunakan  ketentuan  lama,  yaitu  UU  Nomor  13  Tahun  2003  tentang
              Ketenagakerjaan dan PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.

              Alasannya, pertama, Mahkamah Konstitusi (MK) sejatinya masih melakukan uji materil dan formil
              terhadap UU Cipta Kerja. Artinya, aturan ini dan turunannya berupa PP 36/2021 belum bisa
              berlaku untuk penetapan upah minimum pada tahun.

              "Justru penggunaan omnibus law (UU Cipta Kerja) dan dikeluarkannya PP 36/2021 mencederai
              Indonesia sebagai negara hukum," tuturnya.

              Untuk itu, ketika UU dan PP tersebut belum berlaku, maka penentuan upah seharusnya masih
              mengikuti ketentuan lama yang ada di UU 13/2003 dan PP 78/2015. Sebab, kedua aturan itu
              juga belum dicabut.

              Kedua, formula upah dengan PP 36/2021 tidak sesuai dengan kesepakatan antara presiden dan
              DPR yang hanya menyepakati UU Cipta Kerja. Selain itu, ia menilai formula PP 36/2021 aneh
              karena memberlakukan upah batas atas dan bawah kepada buruh.
              "Menurut omnibus law, kenaikannya dari inflasi atau pertumbuhan ekonomi, tidak ada dijabarkan
              seperti Menteri Ketenagakerjaan (Ida Fauziyah) yang pakai PP 36, jadi itu inkonstitusional karena
              ada batas atas dan bawah yang tidak dikenal di omnibus law. Kok mereka jilat ludah sendiri?"
              ucapnya.
              Ketiga, menurut Said, ketentuan upah minimum dengan batas atas dan bawah juga tidak berlaku
              di Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) karena upah minimum adalah jaring pengaman
              nasional  (safety  net).  Bahkan,  ia  mengklaim  tidak  ada  satu  negara  pun  di  dunia  yang
              menerapkan batas atas dan bawah pada upah minimum buruh.

                                                           449
   445   446   447   448   449   450   451   452   453   454   455