Page 41 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 01 JULI 2020
P. 41

"Banyak  yang  tadinya  tidak  punya  apa-apa,  sekarang  pulang  dari  luar  negeri  sudah  punya
              rumah, mereka berangkat berkat  sponsor  ," ujar dia.

              Pada  kesempatan  itu,  ia  juga  mengundang  para  mantan  PMI  untuk  memberikan  kesaksian
              apakah merasa keberatan dengan kehadiran para  sponsor  atau tidak. Salah seorang mantan
              PMI asal Desa Karangkerta, Kecamatan Tukdana, Tursini (47) mengatakan, sebelum berangkat
              ke luar negeri, dirinya hanya warga dari keluarga miskin. Kebutuhan keluarga pun membuatnya
              menjadi tulang punggung keluarga, saat itu ia menguatkan hati ingin bekerja keluar negeri.
              Hanya  saja,  Tursini  kesulitan  untuk  mendapatkan  modal  agar  bisa  bekerja  walau  sudah
              mencoba mencari pinjaman ke berbagai pihak.

              "Ada juga yang nyaranin bisa mendapat pinjaman tapi harus ada jaminan seperti sawah, tapi
              saya  kan  tidak  punya,"  ujar  dia.  Ia  pun  akhirnya  meminta  bantuan  jasa    sponsor    untuk
              berangkat.

              "Alhamdulillah saya pernah ke Taiwan selama 4 tahun, hasilnya bisa saya rasakan," ujarnya.

              Sebelumnya, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI)  Benny Rhamdani
              mengungkapkan keluh kesah dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang mengadu kepadanya.
              Dalam pidato tersebut, ia menyampaikan para PMI yang merasa keberatan dengan pemotongan
              gaji  setiap  bulannya  yang  diminta  oleh  para    sponsor    .  Pemotongan  gaji  itu  bermula  saat
              sponsor  meminta pinjaman kepada bank untuk KUR dengan mengatasnamakan PMI, bank pun
              memberi bunga sebesar 6 persen.

              Kendati  demikian,  menurut    Benny  Rhamdani,    sponsor    tersebut  menyalurkan  pinjaman
              tersebut  ke  PMI  yang  bersangkutan  untuk  memenuhi  kebutuhan  berangkat  ke  luar  negeri
              dengan bunga sebesar 21 persen. Sehingga ia pun mengatakan untuk tidak menyebut para
              penyalur kerja ke luar negeri itu dengan sebutan  sponsor  lagi karena terlalu terhomat.

              "Saya sudah perintahkan seluruh jajaran,  sponsor  itu terlalu terhormat, praktek mereka calo.
              Mereka orang-orang bajingan," ujar dia. Hal ini yang menjadi pemicu para sponsor atau penyalur
              jasa TKI marah.




































                                                           40
   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46