Page 75 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 21 FEBRUARI 2019
P. 75

Aplikasi transportasi daring ini digunakan oleh pengemudi ojek atau taksi daring
               untuk menerima pesanan dari pelanggan.

               Uniknya, kata Sugeng, hubungan antara perusahaan penyedia aplikasi itu dengan
               para pengemudi tidak dapat dikategorikan sebagai hubungan kerja. Mengacu UU
               No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, hubungan kerja adalah hubungan
               antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja yang
               mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah.

               Sementara dalam kasus transportasi daring ini ketiga unsur itu tidak terpenuhi
               karena terjadi bias. Misalnya, siapa yang memberi perintah kepada pengemudi?
               Apakah perusahaan aplikasi atau pelanggan yang mengajukan pesanan?

               "Dalam kasus pengemudi online ini terjadi bias, mana yang disebut pemberi kerja,
               siapa yang memberikan perintah, dan siapa yang memberi upah," kata Sugeng
               dalam acara diskusi bertajuk "Tantangan Perubahan Hubungan Industrial dalam
               Revolusi Industri 4.0 yang digelar Hukumonline.com di Jakarta, Selasa (19/2/2019).

               Menurut Sugeng, hukum ketenagakerjaan mesti mengantisipasi atau mengadopsi
               perkembangan revolusi industri 4.0 itu. Jika tidak ada regulasi ketenagakerjaan
               yang mengaturnya, revolusi industri ini bisa menimbulkan masalah. Misalnya, terkait
               hubungan antara pengemudi dan aplikasi transportasi daring itu. Belum lagi, ketika
               terjadi sengketa, butuh ketentuan yang mengatur bagaimana penyelesaiannya
               apakah melalui pengadilan hubungan industrial (PHI) atau pengadilan perdata.

               "Perlu dibentuk regulasi ketenagakerjaan baru, meskipun prosesnya membutuhkan
               waktu yang tidak sebentar," tuturnya.

               Dia menilai peta jalan yang dibentuk pemerintah mengenai persiapan Indonesia
               menuju Revolusi Industri 4.0 hanya menyasar soal sumber daya manusia (SDM),
               tidak menyentuh pembaruan regulasi ketenagakerjaan.

               Sugeng melihat konsep hubungan kerja yang berkembang saat ini bentuknya
               kemitraan, pekerjaan bisa dilakukan dimana saja dan pekerja bisa bekerja pada
               lebih dari satu perusahaan. Untuk pengupahan perhitungannya berorientasi hasil
               kerja, bukan kehadiran pekerja di tempat kerja.

               Tak terkecuali di lingkungan MA, Sugeng menambahkan menangani perkara yang
               berkaitan ketenagakerjaan di era Revolusi Industri 4.0 itu bisa dilakukan melalui
               beberapa cara. Misalnya, kamar perdata membuat rumusan yang mengikat secara
               internal dan melalui penemuan hukum oleh hakim dalam memeriksa perkara.
               "Memang hukum selalu tertinggal dari realita, maka harus ada terobosan," akunya.

               Seperti diketahui, tahun lalu, Presiden Joko Widodo telah meluncurkan Peta Jalan
               Revolusi Industri 4.0 yang dinamakan Making Indonesia 4.0. Dalam dokumen ini,
               pemerintah akan mendorong produktivitas tenaga kerja, sehingga meningkatkan
               daya saing dan mengangkat pangsa pasar ekspor global. Pemerintah yakin dengan



                                                       Page 74 of 148.
   70   71   72   73   74   75   76   77   78   79   80