Page 66 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 MEI 2019
P. 66
"Sektor swasta tampaknya pada tahun ini tergerus pendapatannya, sehingga masih
belum mampu digenjot untuk ekspansi ke lapangan kerja baru," lanjut Enny.
Pada kuartal I/2019, pertumbuhan ekonomi nasional hanya sebesar 5,07 persen.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan mestinya realisasinya bisa
lebih tinggi lagi dari level tersebut.
Perekonomian justru didongkrak dari belanja sosial pemerintah. Pemerintah
meyakini hal tersebut akan menolong kehidupan masyarakat kelas bawah.
Program Belum Tepat Di sisi lain, pemerintah belum menjanjikan program yang
menyasar pengurangan populasi pengangguran secara signifikan. Program yang
muncul justru seperti penerbitan Kartu Pra Kerja.
Enny menyimpulkan meski membantu masyarakat, kehadiran program tersebut tak
akan menggeser posisi jumlah pengangguran.
"Karena lewat kartu itu hanya membantu yang belum kerja, persoalannya adalah
harus menciptakan lebih banyak lapangan kerja," tukasnya.
Pembantu Rumah Tangga (PRT) pengganti atau infal meninggalkan penyedia jasa
tenaga kerja di Jakarta, Jumat (8/6/2018)./ANTARA-Galih Pradipta Peneliti Centre of
Reform on Economics (CORE) Akhmad Akbar Susamto menilai serupa. Dia
menganggap program Kartu Pra Kerja bisa membuat orang tak semangat mencari
pekerjaan.
Menurut Akbar, gagasan untuk membuat Kartu Pra Kerja masih belum solid, saat ini.
Program itu juga dipandang tidak akan memberi solusi untuk peningkatan kualitas
penyerapan tenaga kerja di Indonesia.
"Ide soal kartu ini masih diubah-ubah. Tetapi, saya bisa katakan kartu ini belum
merupakan ide yang solid, absurd. Kita harus sadar persoalan kita bukan hanya
mereka yang lulus dan ingin bekerja, tapi juga mereka yang sudah kerja tapi ingin
bekerja formal," paparnya.
Mengurangi pengangguran merupakan tugas berat bagi pemerintah, yang harus
diselesaikan sebagai prasyarat pembangunan.
Page 65 of 130.

