Page 43 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 DESEMBER 2019
P. 43
alternatif bernama Migran Pos yang digagasnya bersama sejumlah pekerja migran.
Apa yang dialami Yuli menjadi bukti semakin buruknya kebebasan berekspresi di era
demokrasi. Sebelum membuat media sendiri, Yuli tercatat sebagai kontributor
SUARA, media lokal berbahasa Indonesia di Hongkong.
Yuli ditangkap pada 23 September 2019. Dia lantas banding dan pada 4 November,
pengadilan menyatakan Yuli tidak bersalah karena minimnya bukti yang diajukan
kepolisian. Namun, pihak berwenang di Hongkong mencari celah agar bisa
menghentikan aktivitas Yuli. Yuli pada akhirnya dituduh melewati masa izin tinggal.
Menurut Yuli, masalah izin tinggal sebenarnya bersifat adiminstratif dan bisa
diselesaikan dengan pengajuan izin. Apalagi, majikannya juga melakukan
pembelaan. Namun, pihak berwenang malah menjebloskannya ke tahanan. "Saya
diperlakukan seperti kriminal. Mereka melanggar aturan yang mereka buat sendiri,"
ujar Yuli seperti dalam rilis AJI Surabaya yang diterima JawaPos.com.
Yuli mengaku diperlakukan tidak manusiawi. Tahanan imigrasi, menurutnya, lebih
buruk dari tahanan atau penjara kriminal. "Pertama, kasus saya bukan sebuah kasus
yang biasa. Saya ditahan dengan alasan yang sebenarnya tidak sesuai dengan
prosedur hukum yang berlaku di Hongkong. Kedua, dalam penahanan saya ada
banyak kejanggalan dan saya juga menemukan teman-teman saya. Kami bukan
kriminal tetapi diperlakukan lebih dari orang-orang yang ada di penjara," imbuhnya.
Sebelumnya, jurnalis Indonesia, Veby Mega Indah, tertembak matanya. Veby
dilaporkan mengalami kebutaan setelah terkena peluru karet dari polisi Hongkong.
Veby terkena tembakan saat meliput demonstrasi berunjukan bentrokan pada 29
September 2019.
AJI Surabaya ikut menjemput Yuli saat tiba di Bandara Internasional Juanda di
Sidoarjo pada Senin (2/12). Saat ini, Yuli berada di lokasi aman dan masih dalam
proses pemulihan kesehatan.
Page 42 of 82.

