Page 409 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 14 APRIL 2021
P. 409

KRITIK ATURAN KEMENAKER SOAL PEMBAYARAN THR, SERIKAT PEKERJA: TIDAK
              MASUK LOGIKA
              Jakarta  -  Sekretaris  Jenderal  Organisasi  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (OPSI)  Timboel  Siregar
              mengkritik  aturan  Kementerian  Ketenagakerjaan  soal tunjangan  hari  raya  atau THR Lebaran
              1442 Hijriah yang tertuang dalam Surat Edaran Nomor M/6/HK.04/IV/2021. Ketentuan dalam
              surat itu dinilai memberikan ketidakpastian bagi pekerja maupun pengusaha.

              "Surat  edaran  yang  ditandatangani  pada  12  April  2021,  khususnya  yang  terkait  dengan
              perusahaan yang terdampak Covid-19 sehingga tidak mampu membayar THR 2021 sesuai waktu
              yang ditentukan, menimbulkan ketidakpastian dan tidak masuk logika berpikir yang normal," ujar
              Timboel dalam keterangannya, Selasa, 13 April 2021.

              Salah satu poin surat itu menyebutkan bahwa perusahaan yang masih terdampak Covid-19 dan
              tidak  mampu  memberikan  THR  sesuai  dengan  waktu  yang  ditentukan  dalam  peraturan
              perundang-undangan  diminta  melakukan  dialog  dengan  pekerja  atau  buruh  untuk  mencapai
              kesepakatan.

              Dialog dilaksanakan sesuai kesepakatan dan iktikad baik. Kesepakatan pun dibuat secara tertulis
              dan memuat waktu pembayaran THR paling lambat H-1 sebelum hari raya tiba.

              Timboel  mengatakan  kewajiban  pembayaran  THR  hingga  H-1  bagi  perusahaan  diperkirakan
              bakal menimbulkan masalah bagi buruh. Sebab pada H-1 Lebaran, umumnya manajemen dan
              perkantoran sudah libur. Pengawasan terhadap kewajiban pembayaran THR pun dikhawatirkan
              menjadi kendor.

              Selain itu, buruh tidak memiliki waktu untuk berbelanja mempersiapkan makan minum serta
              kebutuhan untuk hari raya. Walhasil, dana THR berpotensi tidak dibelanjakan sehingga harapan
              pemerintah untuk mendongkrak konsumsi masyarakat tidak tercapai.

              Di  samping  itu,  klausul  tentang  tenggat  pembayaran  THR  dinilai  membingungkan  dan  sulit
              dilaksanakan oleh perusahaan. Sebab, ketentuan itu hanya mengubah waktu pembayaran dari
              H-7 ke H-1 serta tidak membuka ruang bagi perusahaan yang tidak mampu untuk mencicilnya.

              "Bagaimana logika berpikir yang dibangun dalam SE ini, bila perusahaan tidak mampu membayar
              THR pada H-7 karena terdampak Covid dan tidak diberi ruang mencicil, diwajibkan membayar
              THR di H-1. Saya kira perusahaan akan sangat sulit mencari dana dalam waktu enam hari," ujar
              Timboel.

              Adanya  pergeseran  waktu  pembayaran  THR  dari  H-7  ke  H-1  diduga  membuka  peluang
              pengusaha mengemplang pembayaran kewajiban semakin besar. "Kalau hanya mengubah waktu
              pembayaran  dari  H-7  ke  H-1  maka  poin-poin  lainnya  dalam  aturan  akan  relatif  percuma,
              mengingat akan ada kesulitan perusahaan yang terdampak Covid-19 untuk membayar THR pada
              H-1," katanya.
              Timboel mensinyalir surat edaran ini hanya dibuat sebagai jalan tengah lantaran Kementerian
              Koordinator  Bidang  Perekonomian  mewajibkan  perusahaan  membayar  THR  kepada  pekerja
              secara penuh atau tidak boleh dicicil. "Ini salah satu prestasi buruk Menteri Ketenagakerjaan
              yang gagal memberikan kepastian bagi pekerja untuk mendapatkan THR," katanya.







                                                           408
   404   405   406   407   408   409   410   411   412   413   414