Page 226 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 MEI 2020
P. 226
Menaker Ida menjelaskan tujuan pertemuan spesial Para Menaker ASEAN ini adalah
untuk merespon dampak COVID-19 pada sektor perburuhan dan ketenagakerjaan
sebagai langkah konkrit untuk menindaklanjuti komitmen kepala negara yang
disepakati dalam ASEAN Summit on COVID-19 pada bulan April 2020.
"Untuk itu, ASEAN perlu mengambil langkah cepat dan tepat dalam mendukung
stabilitas pasar kerja, perlindungan pekerja dan keberlangsungan usaha yang
terdampak pandemik, " kata Menaker Ida.
Dalam Vidcon selama 3,5 jam tersebut, Menaker Ida mendorong ASEAN OSHNET
untuk menyusun Guidelines atau pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
tentang pencegahan penyebaran COVID-19 dan virus menular lainnya di tempat
kerja yang sejalan dengan protokol WHO.
Menaker Ida juga mendorong ALMM untuk meningkatkan kerja sama dengan
organisasi Internasional dan negara mitra ASEAN untuk menghasilkan rekomendasi
kebijakan guna pemulihan krisis jangka pendek dan perencanaan pemulihan jangka
menengah dan jangka panjang dalam upaya mengembalikan stabilitas perkonomian
termasuk menjaga keberlanjutan rantai pasok di kawasan ASEAN.
"Menghimbau Senior Labour Official Meeting (SLOM) untuk melakukan re-focusing
dan re-targeting aktivitas-aktivitas ASEAN sektor ketenagakerjaan agar lebih fokus
pada pemulihan ekonomi paska pandemik. Diantaranya sektor pariwisata,
perhotelan, manufaktur dan sektor jasa lainnya, " ujar Ida Fauziyah.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Ida menyatakan kesiapan Indonesia sebagai
tuan rumah ASEAN Labour Ministers Meeting (ALMM) ke-26 pada akhir Oktober
hingga awal November 2020 nanti di Jakarta.
"Pelaksanaan ALMM ke-26 yang akan datang tetap akan mempertimbangkan kondisi
perkembangan penyebaran COVID-19, " katanya.
Sementara Sekjen ASEAN, Dato Lim Jock Hoi mengatakan dampak pandemik Covid-
19 telah berdampak sangat signifikan terhadap perekonomian negara-negara
ASEAN. Bahkan rantai pasok dan pasar kerja juga mengalami disrupsi.
"Sektor-sektor paling terdampak diantaranya sektor travel, pariwisata, perhotelan,
manufaktur dan sektor jasa lainnya," katanya.
Dato Lim menambahkan berdasarkan laporan ILO, akibat Covid-19 hampir 1,6
milyar pekerja informal di dunia, ekonominya telah terdampak dan pendapatannya
menurun hingga 60 persen.
"Bagi Pekerja tersebut, berhenti bekerja atau bekerja di rumah adalah bukan suatu
pilihan karena itu menghilangkan penghasilan mereka, " kata.
Dato menambahkan estimasi data ILO, sekitar 68 persen pekerja di dunia, termasuk
81 persen Pengusaha atau pelaku usaha telah terdampak pandemik COVID-19..
Page 225 of 231.

