Page 176 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 16 DESEMBER 2019
P. 176

mengidentifikasi LPK dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja yang akan
               menjadi materi utama dalam pendidikan pelatihan vokasi untuk calon pencari kerja.


               Ida mencatat saat ini ada sekitar 2 ribu LPK terdaftar di seluruh Indonesia. Selain
               itu, Kementerian Ketenagakerjaan akan melihat kompetensi lembaga pelatihan itu,
               tidak sekedar terdaftar tapi juga harus terakreditasi. "Pesan Presiden, LPK, BLK,
               training center, harus memiliki kompetensi untuk menyelenggarakan pelatihan
               vokasi. Jadi benar-benar kita siapkan," ujarnya.

               Terpisah, Direktur Eksekutif Aprisindo Firman Bakri menyebutkan salah satu
               persoalan yang dihadapi perusahaan yang melakukan relokasi ke daerah yakni
               minimnya ketersediaan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan industri. Dia
               menjelaskan salah satu faktor yang mendorong perusahaan melakukan relokasi
               yakni faktor upah minimum yang dinilai terlalu tinggi di daerah tersebut. Untuk
               dapat bertahan dan bersaing, perusahaan memilih untuk pindah ke daerah yang
               upah minimumnya relatif rendah.


               Tapi ketika relokasi ke daerah baru, Firman mengatakan kendala yang dihadapi
               perusahaan sulit menemukan kualifikasi tenaga kerja yang sesuai kebutuhan. Tapi
               dia melihat pemerintah pusat dan daerah sudah mulai mengidentifikasi masalah
               tersebut dan mencari solusinya. Salah satu cara yang dilakukan pemerintah yakni
               menggelar pendidikan vokasi.

               "Seperti di Brebes, Salatiga, dan Jepara, belum tersedia tenaga kerja yang
               memadai. Sudah ada program dari Kementerian Perindustrian dan Kementerian
               Ketenagakerjaan untuk melaksanakan pelatihan tenaga kerja agar keterampilan
               tenaga kerja bisa sesuai kebutuhan industri," ungkap Firman.

               Sekjen OPSI Timboel Siregar menilai program Kartu Pra Kerja punya tujuan yang
               baik yaitu meningkatkan skill angkatan kerja. Dia mencatat anggaran yang
               disediakan pemerintah untuk program ini sebesar Rp10 triliun untuk 2 juta angkatan
               kerja. Timboel mengusulkan program ini dikelola oleh Kementerian
               Ketenagakerjaan, bukan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan
               Kebudayaan.

               Agar berjalan optimal, Timboel mengusulkan program ini disinergikan dengan
               program lain seperti manfaat layanan tambahan (MLT) berupa pelatihan vokasional
               yang dikelola BPJS Ketenagakerjaan (BP Jamsostek). "Peran pemerintah selain
               menyelenggarakan pelatihan vokasi yakni membuat database untuk dihubungkan
               dengan kebutuhan industri yang membutuhkan SDM terlatih (job services)," katanya
               di Jakarta, Kamis (12/12/2019).















                                                      Page 175 of 176.
   171   172   173   174   175   176   177