Page 105 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 28 OKTOBER 2019
P. 105

"Waktu  ngobrol-ngobrol  banyak pengusaha bilang, ya sudah biar saja bangkrut,
               tetapi kalau bangkrut kan harus bayar pesangon, itu yang ditakutkan oleh
               pengusaha. Itu yang jadi dilematis, kalau aturannya gitu ya harus dibayar sesuai
               peraturan."  Menurutnya, seharusnya pemerintah mengatur pesangon sesuai
               dengan kemampuan dari perusahaannya, termasuk berdasarkan dengan
               produktivitas pekerjanya.

                Dalam hal ini, dia juga mengatakan masalah pengupahan menjadi salah satu faktor
               mengapa peringkat Indonesia dalam Ease of Doing Business (EoDB) stagnan
               dengan tahun lalu yaitu di peringkat 73. Namun, secara skor, dibandingkan tahun
               lalu, Indonesia mengalami penurunan 1,64 poin, dari 67,96 pada 2019 menjadi 69,6
               pada 2020.


                "Ongkos tenaga kerja itu salah satu kenapa EoDB kita stagnan. Kenaikan upah kita
               juga tinggi. Kalau dibandingkan dengan Vietnam, kita itu jauh lebih tinggi rata-rata
               kan Rp3,7 juta, kalau Vietnam kan rerata Rp2,6 juta sekian."  Wakil Ketua Umum
               APINDO Shinta Widjaja Kamdani mengatakan pengaruh kenaikan upah jelas akan
               dibebankan kepada biaya produksi perusahaan. Konsekuensinya, apabila tidak
               terjadi peningkatan produktifitas, hal ini akan berimbas pada peningkatan harga
               barang di pasar atau pada penurunan margin pendapatan perusahaan.


                "Pengaruhnya terhadap investasi akan semakin membuat kita sulit kompetitif dalam
               menarik investasi ke Indonesia karena saat ini pun perimbangan antara upah
               dengan produktifitas di Indonesia dengan di negara lain sudah kalah kompetitif
               sehingga banyak investor asing yang lebih memilih investasi di negara lain daripada
               kita," kata Shinta.

                Untuk itu, imbuhnya, pemerintah harus mempercepat pelaksanaan agenda
               reformasi ekonomi nasional tanpa ditunda lagi. Dari sisi investasi, pengusaha
               berharap UU Ketenagakerjaan bisa direview agar lebih merefleksikan perimbangan
               yang baik antara social safety net, tingkat upah, produktivitas dan fleksibilitas
               perubahan lapangan kerja & pasar tenaga kerja di era industri 4.0.

                "Omnibus law yang merelaksasi restriksi investasi dari segi kebijakan maupun
               birokrasi juga perlu segera dirampungkan dan dijalankan dengan konsisten agar
               realisasi investasi di semua level pemerintahan (nasional, provinsi & bahkan
               kabupaten/kota) lebih cepat dan ada peningkatan efisiensi birokrasi yang signifikan
               bagi investor dalam maupun luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia.".




















                                                      Page 104 of 146.
   100   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110