Page 106 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 04 MARET 2019
P. 106

Title          PHK PEKERJA ALIH DAYA HARUS SESUAI DENGAN UU
                Media Name     liputan6.com
                Pub. Date      01 Maret 2019
                               https://www.liputan6.com/bisnis/read/3906912/phk-pekerja-alih-daya-har us-sesuai-
                Page/URL
                               dengan-uu
                Media Type     Pers Online
                Sentiment      Positive








               Penggunaan tenaga alih daya (outsoursing) menjadi praktik yang lumrah dilakukan oleh
               perusahaan-perusahaan di dunia, termasuk di Indonesia. Namun, sering kali terjadi masalah
               saat sebuah perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pekerjanya
               yang berstatus outsoursing.

               Ketua Umum Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI) Greg Chen mengatakan, jika
               sebuah perusahaan melakukan PHK terhadap tenaga outsoursing harus sesuai dengan
               dengan Undang-Undang (UU) Ketenagakerjaan yang berlaku dan berdasarkan ketentuan
               yang diatur dalam Perjanjian Kerjasama (PKS) antara perusahaan dan pekerja.

               "Masalah biasanya terjadi bila kontrak kerja tidak diperpanjang. Sesuai ketentuan
               perundang-undangan, sah saja memutus kontrak atau PHK saat di tengah jalan. Tapi
               Undang-undang mengharuskan klien membayar gaji pokok dan juga tunjangan yang masih
               tersisa sesuai kontrak yang harus dijalani. Jika semua regulasi diikuti umumnya tidak akan
               terjadi masalah," ujar dia di Jakarta, Jumat (1/3/2019).

               Menurut dia, bidang industri apapun, termasuk migas, perkapalan, dan perbankan, jika
               semua aturannya diikuti, komunikasi lancar dan ada itikad baik antara perusahaan dan
               pekerja, maka proses PHK akan berjalan mulus.

               Sebaliknya masalah terjadi, jika kontraknya tidak diperpanjang, namun ada risiko terjadinya
               penyalahgunaan atau pelanggaran aturan oleh perusahaan, hal ini biasanya akan berujung
               pada penyelesaian melalui jalur hukum atau melalui Pengadilan Hubungan Industrial (PHI).

               "Namun demikian penyelesaian melalui jalur PHI amat tidak diminati, mengingat proses
               penyelesaian yang panjang, berbelit, dan menghabiskan dana tidak sedikit. Mereka akan
               lebih memilih penyelesaian langsung melalui perundingan bipartite dengan karyawan atau
               pekerja," kata pria yang juga CEO PT Outsource Indonesia ini.
               Sudah Ada Aturannya

               Sementara itu, Ketua Komite Tetap Ketenagakerjaan KADIN Indonesia, sekaligus Ketua
               Tetap Sertifikasi dan Kompetensi Apindo, Iftida Yasar mengungkapkan dalam sistem
               alihdaya telah diatur sejumlah ketentuan seperti kapan jangka waktu berakhirnya
               pekerjaan, atau bagaimana sistem yang diberlakukan bila nantinya perusahaan tidak dapat
               berjalan seperti yang diharapkan, maka akan berakhir juga hubungan kerja.

               "Sebaliknya kalau tidak ada sistem kerja yang mengatur, bila di kemudian hari terjadi
               pengakhiran kontrak sebelum masa yang seharusnya berakhir, maka perusahaan pemberi
               kerja harus membayar sisa kontrak sesuai perjanjian kerja sama," tandas dia.



                                                      Page 105 of 142.
   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111