Page 127 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 23 JULI 2020
P. 127

Dampak utama kepastian hukum dalam RUU Cipta Kerja sendiri disebut Hariyadi bakal dirasakan
              oleh sektor padat karya, terutama pada usaha berskala mikro dan kecil menengah yang tidak
              akan terikat pada regulasi upah minimum.



              KETIDAKPASTIAN INVESTASI KALA PANDEMI, RUU CIPTAKER BISA BERI
              JAWABAN

              ,  JAKARTA-    Penyelesaian  RUU  Cipta  Kerja  diyakini  pelaku  usaha  dapat  meningkatkan
              kepercayaan  investor  untuk  menanamkan  modal  di  Indonesia.  Aturan  tersebut  dinilai  bisa
              mengurai berbagai kendala investasi yang kerap mempersulit realisasi.

              "Kalau pembahasan RUU ini berlanjut dan hasilnya dipandang kondusif tentu akan menjadi daya
              tarik dan memberi keyakinan bagi investor," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia
              Hariyadi Sukamdani kala dihubungi, Rabu (22/7/2020).
              Dampak utama kepastian hukum dalam RUU Cipta Kerja sendiri disebut Hariyadi bakal dirasakan
              oleh sektor padat karya, terutama pada usaha berskala mikro dan kecil menengah yang tidak
              akan terikat pada regulasi upah minimum.

              "Jika  sektor  UMKM  dilepaskan  dari  regulasi  upah  minimum,  itu  akan  menampung  pekerja.
              Penyerapannya akan lebih baik. Jika dilepas dari regulasi ini nanti yang berjalan  supply and
              demand  ," lanjut Hariyadi.

              Kendati demikian, dia tak memungkiri bahwa geliat investasi di dalam negeri bakal tergantung
              pula pada tingkat konsumsi di masyarakat. Kondisi permintaan pasar sendiri disebut Hariyadi
              bakal amat tergantung pada penanggulangan pandemi.

              Dengan demikian, dia menyarankan agar upaya pemulihan ekonomi dapat dilakukan sejalan
              dengan pembenahan sektor kesehatan.

              Wakil  Ketua  Umum  Kamar  Dagang  dan  Industri  (Kadin)  Indonesia  bidang    Hubungan
              Internasional Shinta Widjaja Kamdani mengemukakan bahwa penurunan realisasi investasi pada
              kuartal  II/2020  merupakan  hal  yang  wajar  di  tengah  pandemi  yang  tak  mendukung  aksi
              ekspansi bisnis. Dia pun mengemukakan bahwa penurunan realisasi investasi pada periode ini
              cenderung rendah.

              Guna menarik lebih banyak investasi pada masa mendatang, Shinta pun menyatakan bahwa
              pengesahan RUU Cipta Kerja bakal menjadi cara tercepat, terutama dalam mengurai tumpang
              tindih aturan yang kerap menjadi batu sandungan investasi.

              "Ketidakpastian atas proyeksi biaya investasi kunci seperti tanah dan biaya tenaga kerja hampir
              semuanya  bisa  diminimalisir  atau  diselesaikan  melalui  RUU  Ciptaker.  Pengesahan  harus
              dilakukan secepatnya, apalagi jika targetnya adalah untuk menarik relokasi industri dari China,"
              papar Shinta.

              Dia mengatakan relokasi industri dari Negeri Panda sejatinya telah mulai terjadi sejak awal tahun
              lalu  sebagai  imbas  dari  perang  dagang  antara  China  dan  Amerika  Serikat.  Shinta  menilai
              Indonesia cenderung terlambat melihat peluang jika dibandingkan dengan negara lain seperti
              Thailand dan Vietnam yang lebih sigap.

              "Mereka telah lebih dulu melakukan perbaikan iklim usaha dan investasi di negaranya sehingga
              mereka lebih dilihat basis produksi alternatif China di Asean dibandingkan Indonesia," katanya.




                                                           126
   122   123   124   125   126   127   128   129   130   131   132