Page 85 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2019
P. 85

Keluarga al Ghamdi mengajukan uang tebusan atau dana diyat kepada hakim yang
               mengadili Ety.

               Pada awalnya, lanjut Emil, hakim memutuskan dana diyat sebesar 30 juta real
               namun setelah melalui proses panjang, diyat turun menjadi lima juta real.

               "Dan setelah dinegosiasikan lagi disepakati diyat empat juta real," kata Emil.

               Emil menceritakan, sejak kesepakatan itu, KJRI berupaya menggalang dana untuk
               membayar diyat empat juta real atau sekitar Rp15,2 miliar.

               Pemerintah berpacu dengan waktu, karena jika dana diyat tersebut tidak terpenuhi
               maka Ety akan dihukum mati dengan cara dipancung.

               "Pemprov Jabar tidak tinggal diam. Kami pun menggalang dana untuk pembebasan
               Ety. Pada bulan Ramadan lalu saya bertemu dengan Dubes Arab Saudi meminta
               pengampunan untuk Ety," katanya.

               Namun karena diyat keburu terpenuhi, dana tahap kedua ini masih ada di rekening
               Jabar Peduli.

               "Dikarenakan dana diyat sudah terpenuhi, shodaqoh yang Rp400 juta dari ASN tetap
               tersimpan di rekening Jabar Peduli," kata Emil.

               Emil juga telah meminta Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jabar dan pihak
               perbankan terutama Bank BJB agar dapat mengeluarkan shodaqohnya.

               "Kami juga selalu berkoordinasi dengan Pemkab Majalengka untuk penggalangan
               dana ini," katanya.

               Hingga kini, Disnakertrans Jabar tetap berkomunikasi dengan KJRI untuk menunggu
               proses administrasi Mahkamah Pengampunan sampai akhirnya Ety binti Toyyib
               Anwar dapat dipulangkan ke Tanah Air.

               "Semoga cepat-cepat bisa pulang ke Majalengka," ujar Gubernur Emil.






















                                                       Page 84 of 180.
   80   81   82   83   84   85   86   87   88   89   90