Page 590 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 DESEMBER 2021
P. 590

Ringkasan

              Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menegaskan, regulasi mengenai upah minimum tetap
              mengacu pada aturan turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
              Hal  ini  merespons  banyaknya  desakan  agar  aturan  pengupahan,  khususnya  upah  minimum
              regional (UMR) 2022 direvisi pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu. Ida
              menegaskan, putusan MK tidak memabatalkan materi dan substasi serta aturan turunan dari UU
              Cipta Kerja. Artinya, perundang-undangan sapu jagat itu masih tetap berlaku hingga dua tahun
              ke depan.



              MENAKER: PELAKSANAAN UU CIPTA KERJA TERMASUK PENGATURAN
              PENGUPAHAN MASIH TETAP BERLAKU

              Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menegaskan, regulasi mengenai upah minimum tetap
              mengacu pada aturan turunan dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.
              Hal  ini  merespons  banyaknya  desakan  agar  aturan  pengupahan,  khususnya  upah  minimum
              regional (UMR) 2022 direvisi pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) beberapa waktu lalu.

              Ida menegaskan, putusan MK tidak memabatalkan materi dan substasi serta aturan turunan dari
              UU Cipta Kerja. Artinya, perundang-undangan sapu jagat itu masih tetap berlaku hingga dua
              tahun ke depan.

              "Seluruh materi dan substansi serta aturan sepenuhnya tetap berlaku tanpa ada satu pasal pun
              yang dibatalkan oleh MK. Atas dasar itu, berbagai peraturan pelaksana UU Cipta Kerja yang telah
              ada saat ini, termasuk pengaturan tentang pengupahan masih tetap berlaku," kata Ida dalam
              keterangan tertulisnya yang dikutip pada Jumat (3/12/2021).

              Ida mengatakan, peraturan pelaksanaan klaster ketenagakerjaan yang menjadi mandat UU Cipta
              Kerja  telah  selesai  dan  diterbitkan  sebelum  putusan  MK  diumumkan.  Karena  itu,  proses
              pengambilan  kebijakan  ketenagakerjaan  saat  ini  harus  tunduk  pada  aturan  tersebut,  tidak
              terkecuali mengenai pengupahan.

              "Oleh karenanya, saya kembali meminta kepada semua pihak khususnya para Kepala Daerah
              untuk  mengikuti  ketentuan  pengupahan  sebagaimana  diatur  dalam  PP  36/2021.  Saya  juga
              mengingatkan bahwa dalam PP tersebut tidak hanya mengatur tentang UM saja, tetapi juga
              terkandung  aturan  struktur  dan  skala  upah  yang  harus  diimplementasikan  oleh  pengusaha,"
              tegas Ida.

              Ida menambahkan, upah minimum merupakan instrumen jaring pengaman bagi pekerja dan
              buruh yang bekerja di bawah 12 bulan. Mereka tidak boleh dibayar di bawah upah minimum.

              Dalam pelaksanaanya, upah minimum provinsi (UMP) ditetapkan oleh gubernur setiap tahunnya.
              Gubernur juga dapat menetapkan upah minimum kabupaten/kota (UMK) dengan catatan rata-
              rata pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota dalam tiga tahun terakhir lebih tinggi dari rata-rata
              pertumbuhan  ekonomi  provinsi.  Jika  syarat  tidak  terpenuhi,  maka  Gubernur  tidak  dapat
              menetapkan UMK.

              "Formula UMP dan UMK pada PP 36/2021 ditujukan agar kesenjangan upah minimum antar
              wilayah, baik antar Provinsi maupun antar Kabupaten/Kota tidak semakin melebar," kata Ida.

              "Kita optimis dengan mengatasi jurang kesenjangan ini, daya saing akan terungkit, iklim investasi
              dan dunia usaha kian bergairah yang berdampak pada penciptaan dan perluasan kesempatan
              kerja. Ujungnya, tentu kembali pada peningkatan kesejahteraan masyarakat," imbuhnya.

                                                           589
   585   586   587   588   589   590   591   592   593   594   595