Page 59 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 SEPTEMBER 2019
P. 59
Namun demikian kata Hanif, ada sejumlah masalah dan tantangan yang harus kita
pahami bersama secara jernih menyangkut isu pembangunan SDM. Menurut Hanif,
daya saing SDM atau tenaga kerja Indonesia relatif rendah.
Hal itu berpangkal dari luaran pendidikan formal yang belum siap kerja, kualitas
SDM didominasi lulusan berpendidikan rendah, kesenjangan SDM tidak merata,
produktivitas masih rendah, dam pihak industri belum berpihak pada tenaga kerja
yang ada.
Di sisi lain, limpahan bonus demografi tahun 2025-2035 diperkirakan sebanyak 70
persen berasal dari usia produktif dan 30 persen berusia muda, antara 15-35 tahun.
"Kuncinya untuk mengelola bonus demografi adalah kesehatan, pendidikan dan
pelatihan vokasi, dan iklim ketenagakerjaan," ucap Hanif.
Untuk itu, pihaknya kini antara lain mendorong peningkatan mutu pelatihan vokasi
di Indinesia. Hal itu ditempuh dengan melibatkan industri untuk menyusun standar
kompetensi program dan kurikulum pelatihan. Di bidang kurikulum, pemerintah
menggodog penyempurnaan komposisi skill seperti technical skill, soft skill, dan
digital skill.
"Kita juga melakukan reorientasi kejuruan dan program pelatihan disesuaikan
dengan potensi daerah, dan mendorong kerja sama dengan industri dalam
penyelenggaraan pelatihan vokasi," paparnya.
Seminar kali ini merupakan seminar kedua dari rangkaian seminar pra-Munas XIII
KAGAMA di lima kota lima pulau, selain di Semarang pada tanggal 22 September
bertema pendidikan, selanjutnya digelar di Manado, Medan dan Bali.
Munas KAGAMA XIII akan diselenggarakan di Bali pada 15-17 November 2019
mendatang yang akan dibuka oleh Presiden Jokowi. Hasil dari seminar akan
disampaikan kepada pemerintah sebagai kontribusi nyata KAGAMA untuk
pembangunan bangsa.
Page 58 of 146.

