Page 63 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 09 SEPTEMBER 2019
P. 63
Namun, kata Hanif, ada sejumlah masalah dan tantangan yang harus dipahami
bersama secara jernih menyangkut isu pembangunan SDM.
Menurut Hanif, daya saing SDM atau tenaga kerja Indonesia relatif rendah.
Hal itu berpangkal dari luaran pendidikan formal yang belum siap kerja, kualitas
SDM didominasi lulusan berpendidikan rendah, kesenjangan SDM tidak merata,
produktivitas masih rendah, dan pihak industri belum berpihak pada tenaga kerja
yang ada.
Di sisi lain, limpahan bonus demografi tahun 2025-2035 diperkirakan sebanyak 70
persen berasal dari usia produktif dan 30 persen berusia muda, yakni antara 15-35
tahun.
"Kuncinya untuk mengelola bonus demografi adalah kesehatan, pendidikan dan
pelatihan vokasi, dan iklim ketenagakerjaan," kata Hanif.
Untuk itu, pihaknya kini antara lain mendorong peningkatan mutu pelatihan vokasi
di Indinesia.
Hal itu ditempuh dengan melibatkan industri untuk menyusun standar kompetensi
program dan kurikulum pelatihan.
Di bidang kurikulum, pemerintah menggodog penyempurnaan komposisi skill seperti
technical skill, soft skill, dan digital skill.
"Kami juga melakukan reorientasi kejuruan dan program pelatihan disesuaikan
dengan potensi daerah, dan mendorong kerja sama dengan industri dalam
penyelenggaraan pelatihan vokasi," paparnya.
Page 62 of 146.

