Page 114 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2020
P. 114

Menurutnya ketika hak-hak petani terganggu, demokrasi menyediakan ruang bagi mereka untuk
              menyuarakan keluh kesahnya. Negara pun punya tanggung jawab untuk menyelesaikannya.

              Selain  itu,  ia  juga  meminta  agar  para  petani  yang  mengadu  tetap  memperhatikan  protokol
              kesehatan, selama memperjuangkan hak-haknya di kota Jakarta.

              "Kondisi pandemi, berjuang yes, jaga diri jaga kesehatan juga yes. Mudah-mudahan dua-duanya
              dijaga, maksud tujuan tercapai, bapak ibu tetap sehat," katanya.

              Dalam  kesempatan  yang  sama,  selaku  Kordinator  26  petani  yang  mengadu  ke  Kemnaker
              Sulaeman  Wardana,  mewakili  170  petani  yang  masih  berjalan  kaki  menuju  Jakarta  untuk
              mencari keadilan.

              Aksi jalan dilakukan karena areal lahan dan tempat tinggal yang telah dikelolanya sejak tahun
              1951 telah digusur paksa oleh korporasi plat merah (PTPN II).

              Padahal petani telah mengantongi SK Landreform sejak tahun 1984 dan parahnya sebanyak 36
              petani di Sei Mencirim yang ikut tergusur sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM).


              "Kami mengadu ke Kemenaker karena 26 petani yang mewakili 170 petani ini juga merupakan
              buruh tani. Harapan kami, pengaduan ini, bisa disampaikan ke Presiden, " ujar Sulaeman.

              Diketahui, luas lahan yang memicu konflik antara petani yang tergabung dalam SPSB dengan
              PTPN II adalah seluas +- 854 hektare (Ha). Sementara konflik petani yang tergabung dalam
              STMB dengan PTPN II berada di lahan seluas +- 850 Ha, di mana tuntutan petani STMB seluas
              +- 323,5 hektare..













































                                                           113
   109   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119