Page 158 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 15 JULI 2020
P. 158

Rencananya,  aksi  menolak  Omnibus  Law  dan  PHK  oleh  para  buruh  akan  dilakukan  secara
              serentak  di  seluruh  wilayah  Indonesia  pada  awal  Agustus  2020.  Untuk  di    daerah    ,  bakal
              dipusatkan di Kantor Gubernur atau DPRD Provinsi.

              Said berujar, sebelumnya KSPI dan sejumlah serikat pekerja lainnya menyatakan keluar dari tim
              teknis Omnibus Law yang membahas klaster ketenagakerjaan.

              Dia  menyinyalir,  tim  tersebut  hanya  bersifat  formalitas,  seolah-olah  buruh  sudah  diajak
              berbicara. Padahal, perwakilan buruh tidak bisa membuat keputusan untuk mengubah pasal-
              pasal di dalam RUU Cipta Kerja yang ia anggap merugikan pekerja. Oleh sebab itu diperlukan
              aksi protes agar suara mereka didengar.

              "Setelah  menyatakan  keluar  dari  tim  teknis  Omnibus  Law  RUU  Cipta  Kerja  klaster
              Ketenagakerjaan, saat ini KSPI sedang mengkonsolidasikan kaum buruh untuk melakukan aksi
              besar-besaran di seluruh wilayah Indonesia yang rencananya digelar serentak pada awal bulan
              Agustus 2020," katanya.

              Said  mengungkapkan,  setidaknya  ada  empat  alasan  mengapa  KSPI  memilih  keluar  dari  tim
              bentukan Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah.

              Pertama,  tim  hanya  bersifat  menampung  masukan  saja.  Kedua,  unsur  Asosiasi  Pengusaha
              Indonesia (Apindo) atau Kamar Dagang Indonesia (Kadin) tidak bersedia menyerahkan konsep
              tertulis kepada KSPI.

              Ketiga, ada batasan waktu, sehingga tidak memberikan ruang kepada KSPI untuk berdiskusi
              secara mendalam terkait nasib buruh. Keempat, tim bisa menyelesaikan substansi permasalahan
              yang ada di dalam RUU Cipta Kerja.

              Oleh sebab itu Said berharap, pemerintah dan DPR agar menghentikan pembahasan Omnibus
              Law RUU Cipta Kerja, untuk kemudian fokus saja menyelamatkan ekonomi masyarakat yang
              morat-marit diterpa badai krisis ekonomi akibat wabah Covid-19.

              Lantas Said Iqbal menyadari, Omnibus Law bukanlah solusi untuk mengatasi krisis ekonomi.
              Untuk itu dia mendesak pembahasan RUU Cipta Kerja harus segera dihentikan.

              Kendati demikian, dia mendukung penuh langkah-langkah Presiden Jokowi dalam menangani
              penyebaran Covid-19 dan penyelematan ekonomi di tengah badai krisis ekonomi, baik di tingkat
              nasional maupun internasional, namun ia garisbawahi bukan berarti menyutujui Omnibus Law.

              "Saya meminta agar pemerintah melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) pengendalian terhadap
              stabilnya  mata  uang  rupiah  terhadap  dolar.  (2)  menjamin  ketersediaan  law  material  impor
              dengan menerapkan kebijakan yang efisien. (3) menghindari PHK massal dengan melibatkan
              sosial dialog bersama serikat buruh. (4) menjaga daya beli masyarakat dan buruh dengan tetap
              memberikan upah ketika buruh dirumahkan," kata Presiden KSPI Said Iqbal. [].

















                                                           157
   153   154   155   156   157   158   159   160   161   162   163