Page 42 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 11 MARET 2020
P. 42

mengaku negara maju, menurut Feri, dengan menganut sistem penambahan lembur
               justru Indonesia menerapkan sistem seperti negara terbelakang.


                "Karena kalau di negara maju seperti Eropa jam kerja dikurangi untuk menambah
               produktivitas tenaga kerja. Tapi di Indonesia jam kerja ditambah dan lembur
               diperpanjang. Ini persis seperti negara terbelakang yang mengejar investasi, tapi
               investasi bodong," sindirnya.


                 Dia menyatakan tidak anti terhadap investasi. Namun dalam RUU Cipta Kerja ini
               menurutnya hanya ada untuk kepentingan negara lain yang ingin menyedot sumber
               daya di Indonesia.


                "Kami tidak anti investasi tapi ini hanya kepentingan investasi-investasi kotor dari
               beberapa negara yang mau mengeruk sumber daya alam dan sumber daya manusia
               kita," bebernya.

                Feri melanjutkan, RUU Cipta Kerja atau  Omnibus Law  juga berbicara tentang
               pendidikan. Namun menurutnya, pendidikan yang disebut di dalamnya yakni untuk
               pemenuhan industri.

                "Pertanyaannya, apa sebenarnya tujuan nasional pendidikan kita, apakah
               sebenarnya menciptakan tenaga kerja murah yang sebenarnya di RUU Cipta Kerja
               pun sudah dibatasi dan dieksploitasi sebegitu dalamnya," ucapnya.

                    "Kemudian sarjana kita diprioritaskan untuk pemenuhan tenaga kerja. Bukan lagi
               orientasinya pada intelektualisme dan riset yang sebenarnya bisa meningkatkan
               produktivitas produk di dalam negeri. Pembangunan industri manufaktur itu bohong
               kalau riset tidak diperdalam, sarjana-sarjana hanya diprioritaskan untuk pemenuhan
               industri. Dengan gaji yang murah, dengan jam kerja yang lama. Ini juga membuka
               peluang untuk tenaga kerja asing," lanjutnya.


                Atas dasar itu Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) kemudian melaksanakan Mosi
               Parlemen Jalanan melalui aksi #  GejayanMemanggilLagi  untuk menyerukan enam
               poin yakni:  1. Gagalkan Omnibus Law (RUU Cipta Kerja, RUU Perpajakan, RUU Ibu
               Kota Negara dan RUU Kefarmasian).

                2. Dukung pengesahan RUU P-KS dan Tolak RUU Ketahanan Keluarga.


                3. Memberikan mosi tidak percaya kepada pemerintah dan seluruh lembaga negara
               yang mendukung pengesahan Omnibus Law.


                4. Mendukung penuh mogok nasional dan menyerukan kepada seluruh element
               rakyat untuk terlibat aktif dalam mogok nasional tersebut.

                5. Lawan tindakan represif aparat dan ormas reaksioner.

                6. Rebut kedaulatan rakyat, bangun demokrasi sejati.







                                                       Page 41 of 117.
   37   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47