Page 81 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 02 JULI 2020
P. 81
"Saya membuktikan langsung kelompok usaha ini merekrut banyak perempuan, juga tidak
melakukan PHK dan merumahkan pekerjanya selama masa pandemi Covid-19. Ini suatu
kebanggaan tersendiri, " ujar Menaker Ida.
Menaker Ida mengatakan pihaknya seringkali meminta perusahaan/dunia usaha agar
menjadikan kebijakan PHK sebagai langkah terakhir setelah melakukan segala upaya dalam
mengatasi dampak Covid-19. Dikatakan Menaker Ida, saat pandemi Covid-19 ini, PT Mahasuri
Utama yang selama ini mengekspor produksi garmennya ke kawasan Asia, langsung
mengalihkan jenis produksi ke baju APD Hazmat dan masker. Hasil produksinya pun kini banyak
digunakan oleh para tenaga medis di seluruh Indonesia.
"Pemerintah terus berupaya membantu perusahaan yang terdampak Covid-19 agar bisa tetap
bertahan dan tidak melakukan PHK pekerjanya. Banyak program-program bantuan yang bisa
dimanfaatkan pengusaha dan pekerja," kata Menaker Ida. Di masa pandemi ini, Menteri Ida
menjelaskan Kemnaker telah melakukan hal yang tidak biasa seperti mengurangi perjalanan
dinas, refokusing program, melakukan pengembangan perluasan kesempatan kerja bagi pekerja
atau buruh yang terdampak Covid-19.
"Kita bantu para pekerja yang terPHK dan dirumahkan melalui kegiatan padat karya
infrastruktur, padat karya produktif, Tenaga Kerja Mandiri; Terapan Teknologi Tepat Guna,
Kewirausahaan, dan Tenaga Kerja Sukarela," ujar Menaker Ida. Selain itu, Menaker Ida
menambahkan di masa pandemi Covid-19, pelatihan di BLK dikhususkan kepada pekerja
terdampak PHK dan dirumahkan lalu juga diberi insentif. "Anggaran insentif berasal dari biayai
perjalanan-perjalanan dinas yang kita batalkan, " katanya.
Pelatihan di BLK bagi pekerja terdampak PHK dan dirumahkan, untuk menghasilkan produk
penanganan dampak Covid-19. Yakni berupa masker, hand sanitizer, disinfektan, baju APD,
wastafel, viresib, peti Covid-19 jenazah, dan penyediaan makanan. Sementara itu, Ela salah
satu pekerja PT MU mengatakan perusahaan mengalihkan produksi karena selama masa
pandemi Covid-19, perusahaannya tak bisa mengirimkan hasil produksi garmen berupa baju ke
luar negeri. Sebelum masa Covid-19, perusahaannya selalu mengekspor ke Asia, Eropa dan
Eropa.
"Masih ada barang yang belum dikirim ke Qatar, Uni Emirat Arab. Karena tidak bisa mengirim
barang ke luar, jadi untuk sementara kita mengerjakan baju Hazmat untuk memenuhi
kebutuhan tim medis Covid-19, " ujar Ela yang bekerja di bagian produksi cutting.
80

