Page 51 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 17 APRIL 2020
P. 51

Title          DPR-PEMERINTAH "TULI & BUTA" NGOTOT BAHAS RUU CILAKA SAAT COVID-19
               Media Name     tirto.id
               Pub. Date      16 April 2020
               Page/URL       https://tirto.id/dpr-pemerintah-tuli-buta-ngotot-bahas-ruu-cilaka-saat -covid-19-eNrB
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Positive






               DPR dan pemerintah dikritik karena ngotot membahas RUU Cilaka saat pandemi
               seperti sekarang.

               Pemerintah dan DPR terus membahas Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja
               (sebelumnya bernama Cilaka atau Cipta Lapangan Kerja) yang disusun dengan
               metode omnibus. Dalam rapat kerja Selasa (15/4/2020) kemarin, hanya dua partai
               yang menyatakan menolak melanjutkan pembahasan . Sisanya, dengan berbagai
               alasan, memilih sebaliknya.

               Sejak awal dirancang pemerintah, RUU Cilaka sebenarnya telah mendapat
               penolakan tegas dari masyarakat, terutama serikat buruh. Peraturan itu dianggap
               menghapus banyak hak-hak buruh yang tertuang dalam UU 13/2003 tentang
               Ketenagakerjaan. Pun pembahasannya tidak transparan. Pihak yang lebih banyak
               didengar--sekaligus diakomodasi kepentingannya--adalah pengusaha.

               Penolakan semakin menguat karena pembahasan peraturan ini ternyata masih
               dilanjutkan saat pandemi COVID-19. Ratusan masyarakat telah meninggal karena
               virus yang belum ditemukan obatnya itu.

               Ketua Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Nining Elitos mengatakan
               satu-satunya alasan DPR-pemerintah tetap membahas peraturan ini adalah karena
               mereka "tuli dan buta." "Kalau mereka tidak tuli dan buta," kata Nining kepada
               reporter Tirto , Rabu (15/5/2020), "sejak awal masyarakat menolak." Ketimbang
               membahas RUU Cilaka, penanganan pandemi adalah pekerjaan rumah yang
               semestinya lebih diprioritaskan saat ini. Penanganan pandemi belum bisa dibilang
               maksimal: data masih amburadul , jumlah alat pelindung diri untuk petugas medis
               tak bisa disebut cukup, para pekerja di-PHK , sampai respons buruk masyarakat
               terhadap jenazah pasien .

               Masalah lain dari krisis saat ini adalah perlindungan terhadap kelompok rentan yang
               masih amat minim. Koalisi Peduli Kelompok Rentan Korban COVID-19 (Pekad)
               menyebut perempuan adalah salah satu kelompok paling terdampak. Tekanan
               ekonomi dan tekanan psikis yang dialami keluarga ketika menjalani social distancing
               di dalam rumah berpotensi meningkatkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
               dan memperburuk kesehatan mental.

               DPR Didesak Hentikan Bahas RUU Cilaka & Fokus Tangani Corona Berdasarkan data
               Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH Apik),
               selama 16 Maret hingga 30 Maret 2020 terjadi 17 kasus KDRT. Jumlah ini meningkat




                                                       Page 50 of 179.
   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55   56