Page 114 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 APRIL 2020
P. 114

"Ini asumsi yang keliru, pemerintah kan punya RPJMN dan kebutuhan ke depan, kan
               belum tentu konsumen ini tahu arah ke depan. Makanya saya bingung kok
               asumsinya bisa sesederhana itu? Kemudian siapa asesornya? Siapa yang melakukan
               ujian standar? Pelatihan kan akan punya sertifikasi, persoalannya, siapa yang akan
               menerima sertifikasi dari hasil pelatihan seperti ini?" tanya Tauhid.

               Lebih jauh, Tauhid menuturkan, telah terjadi perubahan struktur dan tanggung
               jawab yang membingungkan pada program Kartu Prakerja. Sejatinya, keperkejaan
               merupakan ranah kementerian ketenagakerjaan sebagai kementerian teknis, namun
               kemudian dialihkan ke kemnterian koordintaor bidang perekonomian kementerian
               non teknis.


               Setelah dialihkan ke kemenko perekonomian, maka dibentuk Project Office
               Management (PMO) Kartu Prakerja sebagai pelaksana program tersebut. Hal itu,
               kata Tauhid, sama saja meniadakan fungsi kementerian ketenagakerjaan sebagai
               kementerian teknis yang membidangi urusan keperkejaan.


               "Kalau mau begini ya bubarkan saja kementerian tenaga kerja, ganti dengan PMO,
               karena tidak ada perannya kalau begitu kemnaker itu. Jadi ya sebaiknya memang
               ada evaluasi, tunda ini sampai semua efektif dijalankan, jangan sampai ini
               menurunkn kredibilitas pemerintah," pungkas Tauhid.

               Di kesempatan yang sama Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja
               Denni Purbasari menjelaskan, tetap berjalannya program Kartu Prakerja merupakan
               bentuk kepedulian pemerintah pada mereka yang ter-PHK, dirumahkan, atau pelaku
               usaha kecil yang tidak lagi bisa mendapatkan penghasilan.

               Program Kartu Prakerja, dalam hal ini memberikan sarana kepada peserta pelatihan
               untuk tetap bisa produktif dan mempertajam kemampuan melalui pelatihan yang
               diberikan. Ditambah, insentif yang diberikan pemerintah dapat dipakai peserta untuk
               memenuhi kebutuhannya di tengah pandemi covid-19.

               Denni juga menjelaskan, program Kartu Prakerja memiliki konsep berbeda dengan
               Balai Latihan Kerja (BLK) yang selama ini ada. Dalam BLK, pemerintah akan terikat
               kontrak kepada lembaga pelatihan dan itu mengharuskan diadakannya pengadaan
               barang dan jasa.


               "Tapi berbeda dengan Prakerja, karena pemerintah bermitra, bukan berkontrak.
               Dengan 8 platform itu kami bermitra, dan mereka melakukan perjanjian bussiens to
               bussines dengan lembaga pelatihan," jelas Denni.

               Apalagi BLK yang ada dan dijalankan oleh beberapa kementerian tetap jalan dan
               tidak berhenti meski program Kartu Prakerja bergulir.


               "Di Kemenaker, kalau tidak salah di tahun ini untuk kemenaker punya anggaran
               unutk BLK sebesar Rp2,7 triliun untuk 700 ribu orang. Itu modelnya pemerintah
               berkontrak dengan lembaga pelatihan, dan itu tetap jalan, tidak hilang," pungkas
               Denni. (OL-4).




                                                      Page 113 of 181.
   109   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119