Page 178 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 APRIL 2020
P. 178

Title          DPD: OMNIBUS LAW CIPTAKER JAUH DARI SEMANGAT OTONOMI DAERAH
               Media Name     cnnindonesia.com
               Pub. Date      29 April 2020
                              https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200429132910-32-498428/dpd-omn ibus-law-
               Page/URL
                              ciptaker-jauh-dari-semangat-otonomi-daerah
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Negative







               Jakarta - Ketua Komite II  DPD  RI Yorrys Raweyai menyatakan poin penjelasan
               dalam draf Rancangan Undang-undang (RUU)  Omnibus Law Cipta Kerja
               bertentangan dengan semangat otonomi daerah.


               Poin yang dimaksud terkait mengembalikan kewenangan pengambilan keputusan
               atas pengelolaan kekayaan mulai dari perizinan hingga pembinaan pada tingkat
               pemerintah pusat.

               Yorrys menjelaskan, poin penjelasan ini akan membuat pemerintah daerah tingkat
               provinsi dan kabupaten atau kota tidak memiliki kewenangan untuk mengelola
               sumber daya ekonomi sendiri dan cenderung harus menunggu delegasi tugas dari
               pemerintah pusat.

               "Hal ini bertolak belakang dengan semangat pelaksanaan otonomi daerah," ucap
               Yorrys dalam siaran pers yang diterima  CNNIndonesia.com  , Rabu (29/4).

               Selanjutnya, Yorrys menyoroti tentang standar upah minimum pekerja yang
               mengikuti provinsi (UMP). Dalam aturan sebelumnya yakni Peraturan Pemerintah
               (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang pengupahan, dia menerangkan, telah diatur
               bahwa standar yang digunakan menggunakan standar kabupaten atau kota (UMK).

               Menurutnya, upah minimum yang berpatokan pada UMP hanya akan
               menguntungkan kelompok pekerja di daerah tertentu saja, seperti di DKI Jakarta.

               "Di daerah lainnya, pekerja akan dirugikan karena UMP di berbagai daerah provinsi
               lebih rendah dibandingkan standar UMK," tuturnya.

               Yorrys juga menyoroti penghapusan ketentuan upah minum sektoral kota dan
               sektoral kabupaten (UMSK). Menurutnya, langkah penghapusan itu sangat
               merugikan pekerja mengingat UMSK dibagi berdasarkan sektoral karena upah antar
               sektor berbeda sesuai dengan beban kerja yang bervariasi.

               "Beban kerja sektor manufaktur berbeda dengan beban kerja sektor jasa," ujar
               Yorrys.

               Dia juga menyoroti soal aturan pembayaran upah berdasarkan jam kerja. Yorrys
               berkata aturan yang dalam RUU Omnibus Law Cipta Kerja yang mengizinkan
               pengusaha dapat membayar pekerja berdasarkan jam kerja jika seorang pekerja




                                                      Page 177 of 181.
   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182