Page 83 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 30 APRIL 2020
P. 83

Rapat terakhir terkait RUU Cilaka digelar Senin (27/4/2020) kemarin. Baleg DPR
               menggelar rapat bersama Ketua HIPPI Jakarta Sarman Simanjorang, Rektor
               Universitas Prasetya Mulya Djisman Simandjuntak, dan Kepala Departemen Ekonomi
               Center for Strategis and International Studies (CSIS) Yose Rizal.


               Buruh Tetap Menolak  Dugaan bahwa pembahasan klaster ketenagakerjaan ditunda
               untuk "menghindari tekanan massa buruh" nampaknya tidak efektif karena
               beberapa serikat tegas menyatakan tetap menolak RUU Cilaka.

               Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) adalah salah satu serikat yang
               menolak peraturan ini. Sebelum Jokowi mengumumkan penundaan pembahasan
               klaster ketenagakerjaan, mereka mengancam akan turun ke jalan pada 30 April lalu.
               Kini rencana itu ditunda seturut dengan keputusan penundaan pembahasan.

               Juru Bicara KSPI Kahar S. Cahyono mengatakan pembatalan aksi memang karena
               klaster ketenagakerjaan ditunda dibahas. Namun ia menegaskan tekanan kepada
               pemerintah tidak serta merta melemah karena serikatnya akan tetap menolak RUU
               Cilaka dengan alasa "banyak pasal yang mereduksi hak buruh."  Kepada reporter
               Tirto,  Kahar menuntut pemerintah tidak sekadar menunda pembahasan, tapi "cabut
               klaster itu dari Cipta Kerja."  Sementara Ketua Serikat Pekerja Media dan Industri
               Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) Ellena Ekarahendy menegaskan serikatnya
               menolak RUU Cilaka karena masalah pada peraturan ini bukan hanya pada substansi
               dan proses penyusunan, tetapi juga intensinya yang hendak memperdalam
               liberalisasi ekonomi di Indonesia.

               RUU Omnibus Cilaka: Cuti Menikah, Haid, dan Beribadah Dihapus  Oleh karena
               itulah menurutnya, RUU ini tetap merugikan pekerja, terlepas dari apakah klaster
               ketenagakerjaan dibahas belakangan atau bahkan dikeluarkan sama sekali--dan
               dibentuk jadi peraturan baru.


               "Ini dampaknya bareng-bareng ke seluruh rakyat pekerja. Enggak cuma buruh, tapi
               juga petani, nelayan, perempuan, difabel, masyarakat adat. Itu yang akan
               terdampak  Omnibus Law  dengan ada atau tidak ada klaster ketenagakerjaan,"
               kata Ellena kepada reporter  Tirto  .

               Salah satu poin RUU Cilaka di luar klaster ketenagakerjaan yang disoroti Ellena
               adalah soal lingkungan. RUU ini tidak lagi menjadikan analisis mengenai dampak
               lingkungan (Amdal) sebagai  syarat mutlak pendirian usaha  sebagaimana
               sebelumnya diatur pada UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
               Lingkungan Hidup. RUU Ciptaker juga membolehkan industri membuang limbah ke
               sungai dan laut asal mengantongi izin pemerintah.


               "Kehancuran lingkungan hidup aja, kan, berdampak juga ke teman-teman pekerja,"
               Ellena menegaskan..


               (tirto.id - Sosial Budaya ) Reporter: Mohammad Bernie Penulis: Mohammad Bernie
               Editor: Rio Apinino





                                                       Page 82 of 181.
   78   79   80   81   82   83   84   85   86   87   88