Page 17 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 10 JANUARI 2019
P. 17
"Ada 353 di-PHK dengan dalih tidak lulus seleksi dari 1.200 orang," ujarnya.
Dia menuturkan, PT Pertamina Patra Niaga tempat mereka bekerja juga menggunakan jasa
perusahaan pemborong pekerjaan alias vendor baru yaitu PT Garda Utama Nasional, agar
AMT yang sudah lama bekerja tak langsung menjadi pegawai tetap, melainkan harus
mengikuti seleksi lagi.
"Mayoritas sudah puluhan tahun kerja tapi kayak karyawan baru. Karyawan tetap tapi enggak
diakui masa kerja sebelumnya," tuturnya.
Selain itu, para AMT juga menuntut adanya tambahan upah lembur bagi mereka yang bekerja
di atas delapan jam. "Kita juga enggak pernah dapat lembur," kata Legiran. Sebelumnya,
Perusahaan Outsourcing sudah merasa memenuhi hak AMT. Bagian Operasi PT Sapta Sarana
Sejahtera (SSS), mitra outsourcing PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Abdul Choir mengatakan,
gaji dan kesejahteraan awak mobil tangki (AMT) yang mendistribusikan bahan bakar minyak
(BBM) Pertamina sebenarnya cukup bagus. Paling tidak mereka menerima penghasilan di atas
upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta.
Lagi pula, AMT bekerja sesuai perjanjian dan ada waktu istirahat yang cukup. "Selain itu juga
mendapatkan pelayanan dan kesejahteraan kesejahteraan lainnya," ujar Abdul Choir.
Dia menyebutkan, ada sekitar 1.200 orang AMT bekerja di bawah kendali SSS. Mereka
menjadi AMT yang mendistribusikan BBM khususnya dari Depo Plumpang ke sejumlah SPBU
di wilayah DKI Jakarta, sebagian Tangerang, Banten, dan sebagian Jawa Barat.
Dari jumlah tersebut, sekitar 800 orang AMT bekerja dalam dua shift setiap hari. Selebihnya
ada sekitar 400 orang yang off atau libur.
"Para AMT itu sesuai perjanjian kerja bersama (PKB) bekerja 12 jam dan tidak ada waktu
lembur. Mereka bekerja selama enam hari kerja dan tiga hari off. Jadi, mereka bisa bekerja
optimal dan waktu istirahat yang cukup," jelas Choir.
Page 16 of 65.

