Page 70 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 22 OKTOBER 2019
P. 70

Title          PEMKAB PAKSA PAKAI PP NO.78, UPAH BURUH SLEMAN MINUS RP700.000
               Media Name     harianjogja.com
               Pub. Date      21 Oktober 2019
                              https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2019/10/21/512/1022644/pemka b-paksa-
               Page/URL
                              pakai-pp-no78-upah-buruh-sleman-minus-rp700000
               Media Type     Pers Online
               Sentiment      Positive






               Pemkab Sleman sudah mendapatkan surat edaran dari Pemerintah Pusat terkait
               dengan rencana penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK) di Sleman. Kenaikan
               UMK Sleman tahun depan diperkirakan sampai 8,51% atau menjadi Rp1,8 juta.

               Sekretaris Jenderal (Sekjen) Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI)
               DIY, Irsyad Ade Irawan mengatakan apabila dalam menentukan UMK masih
               mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) No.78/2015 tentang Pengupahan, maka
               untuk Sleman, upah minimum yang diperoleh buruh akan defisit Rp700.000.

               "Kami sudah menyurvei lewat standar Kebutuhan Hidup Layak [KHL], tahun depan
               kenaikan itu bisa sampai Rp2,6 juta. Tapi ini kenaikannya hanya jadi Rp1,8 juta.
               Maka di Sleman, bisa defisit sampai Rp700.000," kata Irsyad, Senin (21/10/2019).

               Angka upah minimal Rp2,6 juta untuk Sleman didapat dari survei terhadap 60

               komponen KHL. "Kami survei mulai dari konsumsi, perumahan, pendidikan, juga
               kesehatan. Contoh, harga konsumsi ke pasar diambil rata-rata antara harga eceran
               tertinggi dan terendah. Juga dari perumahan, diambil harga sewa rumah
               sederhana," ujar Irsyad.

               Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sleman, Sutiasih mengaku berdasarkan
               koordinasinya dengan Pemprov DIY dan Pemerintah Pusat, pihaknya akan
               menetapkan UMK mengacu pada PP No.78.

               "Kami sepakat harus taat aturan, karena kami juga berkaca, pernah dilakukan
               pelanggaran oleh Jawa timur, dan ada teguran dari Menteri Dalam Negeri

               [Mendagri]. Makanya kami sepakat pada aturan yang berlaku," ungkapnya pada
               Senin (21/10).

               Dia mengaku sudah konsultasi ke Pusat, menanyakan perihal penerapan PP No.78.
               "Kami minta kejelasan, apakah masih berlaku atau tidak. Hasilnya tahun ini dalam
               menghitung UMK tetap gunakan PP No.78. Itu instruksi dari Pusat," kata Sutiasih.






                                                       Page 69 of 104.
   65   66   67   68   69   70   71   72   73   74   75