Page 92 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 JUNI 2020
P. 92
Dalam unggahan di laman INDUK, Ani mengajak warga Indonesia yang berkecukupan untuk
menyumbang. Ani mengetuk hati rekan-rekan yang memiliki kelonggaran dana untuk
mengulurkan tangan membantu para migran Indonesia di Inggris.
Sebagian warga negara Indonesia yang bekerja di sektor informal di Inggris kehilangan
pekerjaan seketika, tatkala pemerintah memberlakukan lockdown atau karantina wilayah untuk
mengendalikan penyebaran virus corona sejak tanggal 23 Maret lalu.
Mereka langsung terdampak terutama bagi pekerja harian di sektor rumah tangga dan restoran.
Pemilik restoran memilih menutup tempat usaha setelah ditetapkan hanya boleh melayani pesan
antar dan pesan dibawa pulang.
Jasa pekerja rumah tangga juga tidak banyak diperlukan lagi, sebab majikan rata-rata bekerja
di rumah, anak-anak mereka tidak pergi ke sekolah. Bahkan ada pula majikan yang kehilangan
pekerjaan. Otomatis tak ada lagi mata pencaharian yang selama ini menjadi sumber
penghidupan mereka di Inggris dan juga keluarga besar mereka di Indonesia.
"Saya yang turun di lapangan, seperti menghubungi mereka dan bertanya keadaan mereka dan
kadang saya tanya apa yang mereka butuhkan bisa kita belikan contohnya obat sakit kepala ,
atau kadang saya tanya mereka masih punya makanan, itu menjadi tugas saya sebagai
sekretaris di LazisNu, badan yang dibentuk Pengurus NU di Inggris," ujar Siti Wahida.
Menurut Siti, para pembina, pengurus dan ketua LazisNu bekerja membantu para pekerja ilegal
itu. "Alhamdullilah saat ini sudah ada enam orang yang sudah kembali bekerja," katanya.
LazisNu yang diketuai Taufik Widjanarko meminta bantuan dari para relawan untuk membelikan
serta mengantarkan ke alamat para pekerja ilegal , dan juga langsung mentransfer bagi mereka
yang punya rekening untuk belanja sendiri.
"Kita kasih daftar barang apa yang harus dibeli dan alhamdulillah mereka pun belanja sesuai
kebutuhan. Hal itu sangat memudahkan tugas kami , karena jarak yang jauh dan situasi
lockdown tentunya sangat sulit," ujarnya.
Masalah pekerja ilegal tidak saja ada di Inggris tapi di berbagai negara besar di dunia seperti di
Amerika dan juga di Belanda, ujar warga Indonesia yang menetap di Inggris, Eddy Gada
Manurung.
Eddy yang pernah bekerja di Industri pesawat terbang Nusantara mengaku pernah menjadi
illegal worker di Amerika sebelum menetap di Bristol, Inggris.
Walaupun Inggris tidak menjadi tujuan pengiriman tenaga kerja Indonesia secara resmi, namun
banyak warga Indonesia bekerja sebagai pekerja domestik seperti di restoran dan toko-toko
kecil.
Mereka biasanya masuk ke Inggris dibawa majikan dari negara-negara Timur Tengah dan Asia.
Belakangan terdapat sejumlah WNI yang masuk dengan menggunakan visa turis, tetapi
bertujuan bekerja.
Data KBRI London menunjukkan jumlah warga Indonesia terdaftar di Inggris mencapai 9.362
orang dari jumlah itu terdapat sekitar 250 orang bekerja di sektor domestik. KBRI
memperkirakan mereka yang tidak terdaftar berjumlah sekitar 150 orang, meskipun perkiraan
lain menempatkan angkanya lebih tinggi.
91

