Page 4 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 4
perdagangan cukup signifikan, khususnya sektor UMKM. Selain itu, pariwisata yang selama ini
digadang-gadang sebagai sumber kontribusi devisa terbesar kedua bagi Indonesia juga kini tak
berdaya menghadapi badai Covid-19.
Hasil riset berdasarkan data Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) hampir 80% pengusaha di
sektor pariwisata mengalami penurunan omzet. Selain itu, data CNN juga menunjukkan bahwa
penurunan pada sektor pariwisata tersebut juga berimbas pada okupansi hotel yang juga
mengalami penurunan sekitar 60% - 80%.
Mitigasi Sektor Usaha yang Mampu Bertahan Meskipun hantaman pandemi Covid-19
melumpuhkan sebagian besar dunia usaha, masih terdapat beberapa sektor bisnis yang juga
mampu bertahan di tengah pandemi saat ini. Hingga kini setidaknya terdapat lima sektor bisnis
yang dinilai mampu bertahan selama masa pandemi, di antaranya bisnis makanan dan minuman
atau food and beverage (F&B), usaha penjualan kebutuhan bahan pokok, sektor jasa atau
produk kesehatan, usaha jasa pendidikan dan pelatihan, serta bisnis sektor digital.
Hasil kajian SMI menyebutkan bahwa secara nasional, Informasi dan komunikasi menjadi sektor
unggulan bagi seluruh provinsi di Jawa. Adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang
membatasi mobilitas penduduk dan kontak secara langsung menyebabkan permintaan terhadap
sektor telekomunikasi mengalami peningkatan.
Permintaan terhadap layanan data, telekomunikasi dan internet diperkirakan tetap tumbuh
sehubungan beralihnya aktivitas masyarakat dari kantor, pusat perbelanjaan, dan sekolah ke
rumah masing-masing. Kebiasaan tersebut diperkirakan berlanjut pada masa new normal
sehingga dapat mendukung kinerja sektor telekomunikasi.
Berbagai sektor usaha dipaksa untuk terus beradaptasi di masa sulit. Adaptasi yang lebih maju
pada saat sulit adalah dengan melakukan berbagai inovasi, di mana sektor usaha melakukan
suatu tindakan kreatif yang sistematis dan terencana dengan proyeksi masa depan.
Sebagai upaya mendukung sisi suplai, kehadiran pemerintah melalui bantuan modal dan insentif
pajak dapat menjadi angin segar bagi para pelaku usaha untuk mampu bertahan selama
pandemi. Berdasarkan perincian dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), pemerintah telah
menyiapkan dana subsidi bunga bagi UMKM, dunia usaha, dan masyarakat sebesar Rp34,12
triliun, untuk insentif perpajakan kepada UMKM, dunia usaha dan masyarakat sebesar Rp123,01
triliun, dan untuk penjaminan untuk kredit modal kerja baru bagi UMKM sebesar Rp6 triliun.
Selain mendorong sisi suplai, saat ini pemerintah juga perlu mendorong sisi permintaan dengan
mempertahankan daya beli masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut tingkat konsumsi
rumah tangga melemah signifikan menjadi 2,84% pada kuartal I/2020. Angka tersebut turun
drastis dibandingkan dengan kuartal I/2019 yang mencapai 5,02%.
Perlambatan transaksi ekonomi telah terasa sejak Maret lalu dan belum membaik hingga Juni.
Lesunya tingkat konsumsi ini disebabkan oleh terbatasnya mobilitas masyarakat. Sejak Covid-
19 menyebar di Indonesia, jumlah PHK perlahan terus bertambah.
Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah PHK mencapai 1,7 juta orang hingga 8 Juli
2020. Hilangnya pemasukan masyarakat, otomatis menggerus daya beli dan memicu kontraksi
pertumbuhan ekonomi. Melalui PEN, dukungan anggaran sebesar Rp172,1 triliun telah
digulirkan pemerintah untuk mendorong sisi konsumsi, melalui subsidi atau bantuan sosial.
Bagaimana Fokus Ekonomi Indonesia? Ekonomi China mencatat pertumbuhan positif pada
kuartal II/2020 sebesar 3,2% secara tahunan. Sektor manufaktur mendorong pemulihan
ekonomi di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu. Pertumbuhan ini dicapai
setelah status penutupan sejumlah wilayah di negara itu dicabut, diiringi pembukaan berbagai
3

