Page 9 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 9

terpuruknya ekonomi warga yang tak memiliki pekerjaan. Ketua Komisi V DPRD Banten M Nizar
              mengatakan, meningkatnya angka kemiskinan di Banten sudah diprediksi. Hal itu sudah terlihat
              saat Banten menempati urutan teratas untuk angka pengangguran se-Indonesia.



              WAGUB SEPAKAT EVALUASI DISNAKERTRANS
              Kenaikan  persentase  kemiskinan  di  Provinsi  Banten  selama  periode  Maret  tahun  ini  dinilai
              sebagai bentuk ketidakmampuan Pemprov Banten dalam mengendalikan angka pengangguran.
              Kondisi tersebut diperparah dengan adanya pandemi COVID-19 yang mengakibatkan semakin
              terpuruknya ekonomi warga yang tak memiliki pekerjaan.

              Ketua Komisi V DPRD Banten M Nizar mengatakan, meningkatnya angka kemiskinan di Banten
              sudah  diprediksi.  Hal  itu  sudah  terlihat  saat  Banten  menempati  urutan  teratas  untuk  angka
              pengangguran se-Indonesia.
              "Sebelum pandemi COVID-19 terjadi, kita mendapat ranking pertama terkait dengan tingkat
              pengangguran yaitu mencapai 8,01 persen," ujarnya.

              Seperti  diketahui,  catatan  Badan  Pusat  Statistik  (BPS)  Banten  merilis  tingkat  pengangguran
              terbuka (TPT) periode Februari 2020. Adapun persentase TPT di Banten berada di angka 8,01
              persen.  Pada  periode  itu  terdapat  5,6  juta  angkatan  kerja  di  Banten  dan  489.216  orang
              menganggur. Persentase itu berada di atas rata-rata nasional yaitu 4,99 persen. Atas raihan itu
              Provinsi Banten menjadi daerah dengan TPT tertinggi se-Indonesia.

              Politikus Gerindra itu menuturkan, dalam kondisi normal atau sebelum COVID-19, seharusnya
              pengangguran bisa ditekan sehingga warga yang tidak memiliki pekerjaan ini tidak menjadi
              penyumbang  angka  kemiskinan.  Akan  tetapi,  hal  itu  tidak  terjadi  dan  kini  lonjakan
              pengangguran naik signifikan.
              "Apalagi  keadaan  pandemi  corona  seperti  ini,  terlihat  sekali  ketidakmampuan  Disnakertrans
              (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi) untuk mengantisipasi semua persoalan ke depan. Kami
              berharap dalam kondisi normal akan terjadi penurunan pengangguran. Tetapi ada COVID-19,
              ya maka kondisi itu berbalik," katanya.
              Ia  melihat  Disnakertrans  tidak  mampu  melakukan  sesuatu  untuk  memberi  perbaikan  atau
              menekan angka pengangguran yang ada. Untuk itu, Nizar meminta kepada Gubernur Banten
              untuk mengevaluasi kepala Disnakertrans.

              "Kalau kinerja Disnakertrans baik, sehingga gubernur bisa memberikan capaian dan target untuk
              meningkatkan  produktivitas  tenaga  kerja  di  Banten.  Kalau  yang  memimpin  OPD  (organisasi
              perangkat daerah) tidak mampu maka kami berharap gubernur mengambil langkah konkret,"
              cetusnya.

              Bahkan secara tegas Nizar menginginkan adanya pergantian pucuk pimpinan di Disnakertrans
              Banten agar ada penyegaran. Dengan demikian, maka dia meyakini akan muncul ide-ide baru
              dalam menekan angka pengangguran. Hal itu perlu dilakukan karena menyangkut citra Provinsi
              Banten.
              "Banten itu provinsi besar, provinsi yang memiliki industri yang cukup besar juga. Ada 16.000
              pabrik  tapi  pengangguran  luar  biasa.  Kalau  tidak  ada  inoyasi  baru  maka  ini  akan  meng-
              khawtairkan ke depannya," tuturnya.





                                                            8
   4   5   6   7   8   9   10   11   12   13   14