Page 12 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 12

tak mungkin jika 'memajukan' berarti semua tanggung jawab berada di pundak negara dan
              warga negara diandaikan sebagai subjek yang pasif dan hanya menerima serta menikmati suatu
              kemajuan.

              Rumah  Vokasi    Dalam  konteks  inilah,  hemat  saya,  program  Rumah  Vokasi  yang  baru  saja
              diluncurkan  Kementerian  Pendidikan  dan  Kebudayaan  (Kemendikbud)  pada  Rabu  (15/7),
              diletakkan. Di satu sisi, Rumah Vokasi memang menjalankan link and match, mengawinkan
              pendidikan dengan dunia kerja, tetapi di sisi lain lembaga ini secara intrinsik harus menjadi
              lembaga  yang  memanusiakan  warga  negara;  memandirikan    mereka  supaya  tidak  menjadi
              subjek yang pasif.

              Konsekuensi  dari  alur  pemikiran  ini  bisa  menjadi  sangat  jauh.  Tugas  negara  bukan  hanya
              memfasilitasi warganya supaya bisa bersekolah dan kemudian mendapatkan pekerjaan yang
              layak. Jika sampai di sini saja, negara pada hakikatnya menjerumuskan warganya ke dalam
              human  machination  kalau  bukan  menjadikan  mereka  hanya  sampai  menjadi  pekerja.
              Perkembangan  negara  juga  akan  lambat  atau  tak  maju  pesat  karena  rendahnya  minat
              kewirausahaan.

              Konsep  'memajukan'  dalam  pembukaan  UUD  1945  harus  diartikan  lebih  jauh  sebagai
              memampukan  warga  negara  menjadi  tuan  bagi  dirinya  sendiri.  Pertama,  meskipun  seorang
              warga  negara  bekerja  pada  satu  perusahaan  asing,  misalnya,  mereka  bukanlah  ordinarily
              employed, dipekerjakan sebagai orang biasa, dan rentan kehilangan pekerjaan karena tidak
              memiliki keterampilan khusus, atau bahkan bisa diperbudak.

              Harus melekat dalam konsep 'memajukan' itu memampukan setiap warga negara untuk memiliki
              distinctive value atau nilai pembeda yang membuat mereka senantiasa dibutuhkan, dan oleh
              karena itu menjadi manusia terhormat. Rumah Vokasi, oleh karena itu, harus menjadi bagian
              dari  upaya  membalik  kenyataan  bahwa  sebagian  besar  tenaga  kerja  Indonesia,  baik  yang
              bekerja  di  dalam  maupun  di  luar  negeri,  berpredikat  babu  dan  karena  rentan  kehilangan
              pekerjaan terpaksa melakukan apa saja untuk mempertahankan pekerjaannya.

              Kedua, bisa dan mampu bekerja pada orang atau suatu perusahaan sebagai manusia terhormat
              semestinya  tidaklah  menjadi  tujuan  akhir  dari  tanggung  jawab  negara  dalam  memfasilitasi
              kesejahteraan umum. Sebagai contoh, menjadi employee atau pekerja adalah tujuan antara
              saja. Pada satu titik, siapa pun berhak dan difasilitasi supaya beralih menjadi employer atau
              pemberi kerja.

              Dengan kata lain, program vokasi yang kini direaktivasi Kemendikbud juga bertanggung jawab
              dalam memupus mentalitas pegawai atau pekerja yang jamak di Indonesia. Kecenderungan
              masyarakat untuk memilih bekerja sebagai pegawai, misalnya, dan karena alasan politik juga
              lainnya  seperti  diaminkan  pemerintah,  merupakan  preseden  buruk  bagi  kemajuan  negara.
              Negara  harus  memfasilitasi  warganya  untuk  menjadi  pewirausaha  seperti  yang  dilakukan
              negara-negara ekonomi maju.
              Beberapa catatan  Agar upaya memajukan warga negara ini terjadi dalam dunia pendidikan
              vokasi,  ada  beberapa  catatan  yang  perlu  diperhatikan  yang  mencakup  pilihan  jurusan
              berdasarkan minat dan bakat, kurikulum yang memiliki compellingness, dan tidak administratif,
              serta proses pendidikan yang manusiawi.
              Secara wacana, pemilihan juruan berdasarkan minat dan bakat bukan hal baru dalam dunia
              pendidikan di Indonesia. Persoalan yang harus diatasi dalam penjurusan ini ialah adanya unsur
              pemaksaan, baik dalam relasi sosial di rumah tangga maupun yang lebih sulit diatasi di tengah
              masyarakat.  Mungkin  karena  faktor  kualitas  literasi,  jurusan  ilmu-ilmu  alam  seperti  lebih
              terhormat, dan menjanjikan secara ekonomi jika dibandingkan dengan jurusan- jurusan lainnya.


                                                           11
   7   8   9   10   11   12   13   14   15   16   17