Page 15 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 JULI 2020
P. 15
Infrastruktur (SMI) menyebutkan bahwa badai pandemi telah memukul pertumbuhan sektor
perdagangan cukup signifikan, khususnya sektor UMKM. Selain itu, pariwisata yang selama ini
digadang-gadang sebagai sumber kontribusi devisa terbesar kedua bagi Indonesia juga kini tak
berdaya menghadapi badai Covid-19.
Hasil riset berdasarkan data Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) hampir 80% pengusaha di
sektor pariwisata mengalami penurunan omzet. Selain itu, data CNN juga menunjukkan bahwa
penurunan pada sektor pariwisata tersebut juga berimbas pada okupansi hotel yang juga
mengalami penurunan sekitar 60% - 80%.
Mitigasi Sektor Usaha yang Mampu Bertahan
Meskipun hantaman pandemi Covid-19 melumpuhkan sebagian besar dunia usaha, masih
terdapat beberapa sektor bisnis yang juga mampu bertahan di tengah pandemi saat ini. Hingga
kini setidaknya terdapat lima sektor bisnis yang dinilai mampu bertahan selama masa pandemi,
di antaranya bisnis makanan dan minuman atau food and beverage (F&B), usaha penjualan
kebutuhan bahan pokok, sektor jasa atau produk kesehatan, usaha jasa pendidikan dan
pelatihan, serta bisnis sektor digital.
Hasil kajian SMI menyebutkan bahwa secara nasional, Informasi dan komunikasi menjadi sektor
unggulan bagi seluruh provinsi di Jawa. Adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang
membatasi mobilitas penduduk dan kontak secara langsung menyebabkan permintaan terhadap
sektor telekomunikasi mengalami peningkatan.
Permintaan terhadap layanan data, telekomunikasi dan internet diperkirakan tetap tumbuh
sehubungan beralihnya aktivitas masyarakat dari kantor, pusat perbelanjaan, dan sekolah ke
rumah masing-masing. Kebiasaan tersebut diperkirakan berlanjut pada masa new normal
sehingga dapat mendukung kinerja sektor telekomunikasi.
Berbagai sektor usaha dipaksa untuk terus beradaptasi di masa sulit. Adaptasi yang lebih maju
pada saat sulit adalah dengan melakukan berbagai inovasi, di mana sektor usaha melakukan
suatu tindakan kreatif yang sistematis dan terencana dengan proyeksi masa depan.
Salah satu bentuk inovasi bagi dunia usaha yang dapat dilakukan di masa pandemi ini ialah
"bersahabat" dengan teknologi. Para pelaku usaha kini harus berani manfaatkan penjualan
secara daring, sebab terhubung dengan ekosistem digital akan memudahkan masyarakat untuk
mengakses berbagai produk usaha yang diperdagangkan. Selain inovasi melalui teknologi, para
pelaku usaha kini juga perlu lebih adaptif dalam menyikapi pandemi. Adaptif dalam hal ini ialah
mengalihkan produksi bisnisnya ke berbagai barang yang diperlukan konsumen saat ini.
Digitalisasi dan bisnis yang adaptif merupakan dua hal penting yang kini dapat menjadi senjata
bagi pelaku usaha untuk mampu bertahan selama masa pandemi.
Sebagai upaya mendukung sisi suplai, kehadiran pemerintah melalui bantuan modal dan insentif
pajak dapat menjadi angin segar bagi para pelaku usaha untuk mampu bertahan selama
pandemi. Berdasarkan perincian dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),pemerintah telah
menyiapkan dana subsidi bunga bagi UMKM, dunia usaha, dan masyarakat sebesar Rp34,12
triliun, untuk insentif perpajakan kepada UMKM, dunia usaha dan masyarakat sebesar Rpl23,01
triliun, dan untuk penjaminan untuk kredit modal kerja baru bagi UMKM sebesar Rp6 triliun.
Selain mendorong sisi suplai, saat ini pemerintah juga perlu mendorong sisi permintaan dengan
mempertahankan daya beli masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut tingkat konsumsi
rumah tangga melemah signifikan menjadi 2,84% pada kuartal 1/2020. Angka tersebut turun
drastis dibandingkan dengan kuartal 1/2019 yang mencapai 5,02%.
14

